Aku
tak mengerti apa yang sedang aku rasakan saat ini. Kenapa hidupku terasa sangat
hampa. Apa yang sedang terjadi denganku.
“Hey,
bengong aja” kata Sela yang datang dengan setumpuk makanan di piringnya. “De,
aku pengan ngasih kabar gembira nih. Tau ngga, aku udah jadian sama Huda. Ah
senengnya, akhirnya aku ngga jomblo lagi. Kayanya Huda bener-bener orang yang
tepat deh. Aku beruntung banget dapetin dia” Jelas Sela sambil menatap
langit-langit kamarnya. Aku tersenyum simpul dan bahagia mendengarnya.
“Syukurlah
kalau begitu Sel. Eh traktiran donk...!” kataku dengan memaksa ceria di hadapannya.
“Ya
beres, nanti aku ajak kamu renang ya. Oke oke.....” kata Sela dengan sangat
ceria. Aku pun menunjukkan wajah keceriaan palsuku. Aku berjalan menjauhi Sela
dan berjalan mendekat jendela kamar Sela. Hatiku sakit dan merintih. Bukan
karena Sela yang jadian dengan Huda tapi aku meratapi nasibku sendiri. Sepertinya
bahagia sekali mempunyai paras cantik seperti Sela. Selalu diperhatikan banyak
cowok, terkenal dikalangan banyak cowok, banyak penggemar dan dapat memilih
calon pacar. Sedangkan aku? Sudah bertaun-taun aku menjomblo. Terakhir pacaran
waktu kelas 2 SMP itu pun hanya 25 hari. Karena aku tak secantik Sela, hidupku
kesepian. Bahkan di kampus, cowok yang mengenalku hanya 3 orang itu pun teman
praktikum Biologiku. Aku tak tau apakah aku harus bahagia atau sebaliknya.
Terkadang aku mencoba untuk berbesar hati bahwa kelak orang yang mencintaiku
adalah orang yang baik hati karena ia tak peduli dengan parasku yang tak cantik.
Namun terkadang pula siapa orang yang akan mencintaiku? Tak adakah orang yang
sudi denganku? Aku tak laku. Itulah ungkapan kasar yang bisa ditujukkan
untukku.
Jujur aku malu dan iri pada
teman-temanku. Mereka semua sudah punya pasangan. Pada saat perayaan Valentine
mereka saling bercerita tentang kejutan yang dibuat pacar masing-masing dan aku
hanya terdiam. Tak ada yang bisa aku bagi dengan mereka. Hanya aku, hanya aku yang menjomblo. Tuhan,
aku juga ingin sekali merasakan seperti yang mereka rasakan. Bahagia.
Aku takkan merubah definisi bahagia
menurutku. Tapi Tuhan aku mohon biarkan sekali saja aku merasakan seperti apa
yang mereka rasakan. Aku ingin mencintai dan dicintai seperti mereka. Aku ingin
merasakannya. Ingin sekali merasakannya.
“Hey,
bengong lagi sih?” Sela kembali membuyarkan lamunanku.
“Maaf.
Ouh iya Sel aku harus pulang. Udah sore nih” ucapku pada Sela sambil mengemasi
barang-barangku.
“Tapi
kamu ngga apa-apa kan De?” tanyanya seperti menghawatirkanku.
“Aku
ngga apa-apa kok” kataku sambil tersenyum. Aku mencoba untuk tak menunjukkan
apapun pada Sela. Aku tak ingin dia tau. Terlalu hina bagiku kalau sampai dia
tahu apa yang aku rasakan. Sela melambaikan tangan ke arahku dan aku balas
sebisa mungkin sambil tersenyum pula ke arahnya. Aku kendarai sepeda motorku
dengan hati-hati meskipun entah hatiku sedang sangat kacau.
Setibanya
di rumah, aku membanting tubuhku ke atas kasur. Aku masih belum bisa melepaskan
kesedihan yang sedang aku rasakan saat ini. Tiba-tiba ponselku bergetar. Satu pesan
masuk dari Rizki.
De, kamu mau ketemu aku ngga?
Itu isi sms Rizki. Apa yang terjadi dengan cowok satu ini. Iya, Rizki adalah
mantan pacarku seperti yang aku ceritakan tadi dia adalah mantan pacarku waktu
kelas 2 SMP. Kami hanya jadian 25 hari dan aku tau Rizki tak pernah tulus
mencintaiku. Aku hanya dijadikannya pelarian semata. Dan hal yang paling ku
benci adalah Rizki minta putus sehari sebelum aku ulang tahun. Berhari-hari dan
bertahun-tahun aku menunggu hadiah spesial dari seorang kekasih dihari ulang
tahunku, namun hari itu tak pernah aku dapatkan. Dan bertahun-tahun kemudian
aku tak pernah lagi berani bermimpi seperti itu. Jujur, aku menyukai Rizki
semenjak pertama kali masuk kelas dua SMP dan hingga detik ini mungkin aku
masih menyayanginya. Masih menyayanginya sama seperti dulu kala. Aku bukan
mencintainya tapi aku menyayanginya.
Kini aku dan Rizki berteman, sama
seperti aku dan beberapa temanku yang lain. Tak ada yang spesial diantara kami
namun dihatiku ada. Aku benci sekali saat Rizki mulai mengirimiku beberapa SMS
yang isinya tentu saja membuat kami semakin dekat. Aku benci sekali jika Rizki
melakukan itu. Aku tak ingin berharap banyak pada Rizki. Aku tak ingin membuat
diriku sendiri menderita. Berkali-kali aku jatuh hati pada cowok namun apalah
daya aku tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang cowok lihat dari diriku yang
seperti ini. Oke aku memang tak cantik seperti Sela, namun bukankah aku juga
berhak bahagia?
Aku sangat lelah berharap dan terus
berharap. Terkadang aku mengubur sendiri harapan-harapan itu, namun aku tak
kuasa mengingkarinya. Harapan itu akan selalu ada dalam hati-hati manusia.
Harapan untuk mencintai dan dicintai.
Berkali-kali aku membungkus hatiku
tebal-tebal agar tak tersentuh oleh harapan-harapan itu. Namun karena waktu, bungkusan
itu terkikis, kembali menipis dan terus menipis. Aku kembali harus berjuang
menghalau perasaan-perasaan ini. Selamanya Rizki tak akan pernah bisa membalas
harapanku karena aku tau Rizki tak pernah mencintaiku. Berkali-kali aku mencoba
melupakan Rizki, namun aku terlambat. Hatiku terlambat karena aku terlalu
menyayangi Rizki. Bertahun-tahun aku menyayanginya dan entah sampai kapan. Aku
sadar-sesadar sadarnya, Rizki tak akan pernah mencintaiku karena aku tak
cantik.
Apakah cinta itu harus selalu diukur
dari fisik? Lantas bagaimana denganku? Orang bilang cinta itu dari mata turun
ke hati. Ah tamat sudah riwayatku.
Aku mencoba mengalihkan perhatianku
pada hal lain. Aku mencoba membuat daftar mimpi dan merealisasikannya satu per
satu. Aku sudah cukup bertahan dengan keadaan ini, dengan kesepian-kesepian ini.
Tapi waktu yang berjalan berkata lain. Aku kembali disibukkan dengan hal sepele
ini kembali. Rizki kembali hadir membayang-bayangi hatiku. Ia membuatku kembali
berharap dan terus berharap. Namun aku selalu takut. Aku sudah lelah menjalani
harapan-harapan kosong ini. Aku lelah bahkan sangat lelah. Kini aku tak mau
menyentuh harapan-harapanku lagi. Cukup sudah.
Aku membanting ponselku dan menenggelamkan
mukaku ke dalam bantal. Aku menahan seluruh rasa sakitku. Hati ini sungguh
sakit dan perih. Kenapa ia terus membayangiku namun tak ada secercah pun
harapanku yang terealisasi. Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku menjadi
lemah begini.
Ponselku kembali bergetar. Kali ini
Rizki menelponku namun ternyata itu hanya miscall.
Kalau terus-terusan seperti ini lama-lama aku akan kembali hancur. Aku lelah
mengharapkan Rizki. Benar-benar lelah.
Ibu tiba-tiba hadir dari balik pintu
dan menghampiriku.
“Kenapa
De?” tanyanya sambil menatap mataku serius. “De, kamu jangan pacaran dulu ya.
Kamu kan tau adik-adikmu sudah mulai tumbuh besar dan harus sekolah lanjut
juga. Sekarang ibu dan bapa sudah tua. Kakak kamu juga sudah mulai menginjak
usia nikah. De, kamu harus berhasil jadi sarjana dulu, terus kerja dan cari duit
buat bantu adik-adikmu sekolah. Jadi kamu fokus kuliah yang bener dulu. Jodoh
itu di tangan Tuhan. Kamu tak usah mengkhawatirkan jodoh tho De. Manusia itu
kan diciptakan berpasang-pasangan. Jadi pasanganmu sudah tertulis di Lauf
Mahfudz sana” Ucap ibu seolah-olah tau apa yang sedang aku risaukan. Aku
menatap balik mata ibu. Garis-garis keriput sudah mulai bermunculan di raut
mukanya. Iya, ibu sudah tua. Kelak aku akan menggantikan mereka untuk menjadi
tulang punggung keluarga. Setelah kakak menikah, aku yang akan membiayai
kehidupan adik-adik, ibu dan ayah. Seharusnya aku bisa menjadi lebih baik untuk
masa depan yang lebih baik juga. “De, kalau kamu mau, kamu juga boleh ko kuliah
di luar negeri itu pun kalau kamu dapat beasiswa. Seperti anak bos bapak kamu
itu lho, sekarang dia dapat beasiswa S2 ke luar negeri. Ibu akan bangga kalau
kamu juga bisa seperti itu” tambahnya. Kuliah ke luar negeri memang mimpi
terbesarku. Dulu aku berpikir kalau aku kuliah ke luar negeri siapa yang akan
menjaga ibu? Tapi ternyata ibu telah memberikan restunya untukku.
Apa yang aku pikirkan barusan?
Pacar? Harapan dan kebahagiaan? Ah bukankah belum waktunya aku memikirkan itu
semua. Iya, masih banyak hal yang harus aku lakukan. Kebahagiaan ibu dan
keluarga jauh lebih penting daripada kebahagiaanku sendiri. Aku yakin, suatu
hari nanti pasti akan ada orang yang bisa menyayangiku dengan tulus, menerima
aku apa adanya. Bisa mencintai kekurangan dan kelebihanku. Aku tau pasti aku
akan mendapatkan seseorang yang seperti itu. Benar kata ibu, bukankah manusia
itu diciptakan berpasang-pasangan? Ya, aku takkan khawatir lagi. Suatu hari
nanti aku pasti akan dipertemukan dengan jodohku. Kini saatnya aku kembali
merealisasikan mimpi-mimpi besarku. Memulai dengan semangat baru dan
melayangkan harapan-harapan baru. Aku punya mimpi dalam genggamanku, apakah aku
akan melemparkannya tinggi terbang bersama para awan atau akan tetap rendah
dalam genggaman tanganku, itu adalah pilihan.
“Iya
bu, Dea akan laksanakan nasihat ibu” kataku sambil memeluk ibuku. Rasanya hangat sekali. Sekejap kekhawatiranku
menghilang. Ibu memberikan solusi terbaik untukku. Solusi langsung mengarah
kalbuku. Terima Kasih ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar