Minggu, 22 April 2012

Sederhana


Aku tak mengerti apa yang sedang aku rasakan saat ini. Kenapa hidupku terasa sangat hampa. Apa yang sedang terjadi denganku.
“Hey, bengong aja” kata Sela yang datang dengan setumpuk makanan di piringnya. “De, aku pengan ngasih kabar gembira nih. Tau ngga, aku udah jadian sama Huda. Ah senengnya, akhirnya aku ngga jomblo lagi. Kayanya Huda bener-bener orang yang tepat deh. Aku beruntung banget dapetin dia” Jelas Sela sambil menatap langit-langit kamarnya. Aku tersenyum simpul dan bahagia mendengarnya.
“Syukurlah kalau begitu Sel. Eh traktiran donk...!” kataku dengan memaksa ceria di hadapannya.
“Ya beres, nanti aku ajak kamu renang ya. Oke oke.....” kata Sela dengan sangat ceria. Aku pun menunjukkan wajah keceriaan palsuku. Aku berjalan menjauhi Sela dan berjalan mendekat jendela kamar Sela. Hatiku sakit dan merintih. Bukan karena Sela yang jadian dengan Huda tapi aku meratapi nasibku sendiri. Sepertinya bahagia sekali mempunyai paras cantik seperti Sela. Selalu diperhatikan banyak cowok, terkenal dikalangan banyak cowok, banyak penggemar dan dapat memilih calon pacar. Sedangkan aku? Sudah bertaun-taun aku menjomblo. Terakhir pacaran waktu kelas 2 SMP itu pun hanya 25 hari. Karena aku tak secantik Sela, hidupku kesepian. Bahkan di kampus, cowok yang mengenalku hanya 3 orang itu pun teman praktikum Biologiku. Aku tak tau apakah aku harus bahagia atau sebaliknya. Terkadang aku mencoba untuk berbesar hati bahwa kelak orang yang mencintaiku adalah orang yang baik hati karena ia tak peduli dengan parasku yang tak cantik. Namun terkadang pula siapa orang yang akan mencintaiku? Tak adakah orang yang sudi denganku? Aku tak laku. Itulah ungkapan kasar yang bisa ditujukkan untukku.
            Jujur aku malu dan iri pada teman-temanku. Mereka semua sudah punya pasangan. Pada saat perayaan Valentine mereka saling bercerita tentang kejutan yang dibuat pacar masing-masing dan aku hanya terdiam. Tak ada yang bisa aku bagi dengan mereka.  Hanya aku, hanya aku yang menjomblo. Tuhan, aku juga ingin sekali merasakan seperti yang mereka rasakan. Bahagia.
            Aku takkan merubah definisi bahagia menurutku. Tapi Tuhan aku mohon biarkan sekali saja aku merasakan seperti apa yang mereka rasakan. Aku ingin mencintai dan dicintai seperti mereka. Aku ingin merasakannya. Ingin sekali merasakannya.
“Hey, bengong lagi sih?” Sela kembali membuyarkan lamunanku.
“Maaf. Ouh iya Sel aku harus pulang. Udah sore nih” ucapku pada Sela sambil mengemasi barang-barangku.
“Tapi kamu ngga apa-apa kan De?” tanyanya seperti menghawatirkanku.
“Aku ngga apa-apa kok” kataku sambil tersenyum. Aku mencoba untuk tak menunjukkan apapun pada Sela. Aku tak ingin dia tau. Terlalu hina bagiku kalau sampai dia tahu apa yang aku rasakan. Sela melambaikan tangan ke arahku dan aku balas sebisa mungkin sambil tersenyum pula ke arahnya. Aku kendarai sepeda motorku dengan hati-hati meskipun entah hatiku sedang sangat kacau.
Setibanya di rumah, aku membanting tubuhku ke atas kasur. Aku masih belum bisa melepaskan kesedihan yang sedang aku rasakan saat ini. Tiba-tiba ponselku bergetar. Satu pesan masuk dari Rizki.
De, kamu mau ketemu aku ngga? Itu isi sms Rizki. Apa yang terjadi dengan cowok satu ini. Iya, Rizki adalah mantan pacarku seperti yang aku ceritakan tadi dia adalah mantan pacarku waktu kelas 2 SMP. Kami hanya jadian 25 hari dan aku tau Rizki tak pernah tulus mencintaiku. Aku hanya dijadikannya pelarian semata. Dan hal yang paling ku benci adalah Rizki minta putus sehari sebelum aku ulang tahun. Berhari-hari dan bertahun-tahun aku menunggu hadiah spesial dari seorang kekasih dihari ulang tahunku, namun hari itu tak pernah aku dapatkan. Dan bertahun-tahun kemudian aku tak pernah lagi berani bermimpi seperti itu. Jujur, aku menyukai Rizki semenjak pertama kali masuk kelas dua SMP dan hingga detik ini mungkin aku masih menyayanginya. Masih menyayanginya sama seperti dulu kala. Aku bukan mencintainya tapi aku menyayanginya.
            Kini aku dan Rizki berteman, sama seperti aku dan beberapa temanku yang lain. Tak ada yang spesial diantara kami namun dihatiku ada. Aku benci sekali saat Rizki mulai mengirimiku beberapa SMS yang isinya tentu saja membuat kami semakin dekat. Aku benci sekali jika Rizki melakukan itu. Aku tak ingin berharap banyak pada Rizki. Aku tak ingin membuat diriku sendiri menderita. Berkali-kali aku jatuh hati pada cowok namun apalah daya aku tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang cowok lihat dari diriku yang seperti ini. Oke aku memang tak cantik seperti Sela, namun bukankah aku juga berhak bahagia?
            Aku sangat lelah berharap dan terus berharap. Terkadang aku mengubur sendiri harapan-harapan itu, namun aku tak kuasa mengingkarinya. Harapan itu akan selalu ada dalam hati-hati manusia. Harapan untuk mencintai dan dicintai.
            Berkali-kali aku membungkus hatiku tebal-tebal agar tak tersentuh oleh harapan-harapan itu. Namun karena waktu, bungkusan itu terkikis, kembali menipis dan terus menipis. Aku kembali harus berjuang menghalau perasaan-perasaan ini. Selamanya Rizki tak akan pernah bisa membalas harapanku karena aku tau Rizki tak pernah mencintaiku. Berkali-kali aku mencoba melupakan Rizki, namun aku terlambat. Hatiku terlambat karena aku terlalu menyayangi Rizki. Bertahun-tahun aku menyayanginya dan entah sampai kapan. Aku sadar-sesadar sadarnya, Rizki tak akan pernah mencintaiku karena aku tak cantik.
            Apakah cinta itu harus selalu diukur dari fisik? Lantas bagaimana denganku? Orang bilang cinta itu dari mata turun ke hati. Ah tamat sudah riwayatku.
            Aku mencoba mengalihkan perhatianku pada hal lain. Aku mencoba membuat daftar mimpi dan merealisasikannya satu per satu. Aku sudah cukup bertahan dengan keadaan ini, dengan kesepian-kesepian ini. Tapi waktu yang berjalan berkata lain. Aku kembali disibukkan dengan hal sepele ini kembali. Rizki kembali hadir membayang-bayangi hatiku. Ia membuatku kembali berharap dan terus berharap. Namun aku selalu takut. Aku sudah lelah menjalani harapan-harapan kosong ini. Aku lelah bahkan sangat lelah. Kini aku tak mau menyentuh harapan-harapanku lagi. Cukup sudah.
            Aku membanting ponselku dan menenggelamkan mukaku ke dalam bantal. Aku menahan seluruh rasa sakitku. Hati ini sungguh sakit dan perih. Kenapa ia terus membayangiku namun tak ada secercah pun harapanku yang terealisasi. Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku menjadi lemah begini.
            Ponselku kembali bergetar. Kali ini Rizki menelponku namun ternyata itu hanya miscall. Kalau terus-terusan seperti ini lama-lama aku akan kembali hancur. Aku lelah mengharapkan Rizki. Benar-benar lelah.
            Ibu tiba-tiba hadir dari balik pintu dan menghampiriku.
“Kenapa De?” tanyanya sambil menatap mataku serius. “De, kamu jangan pacaran dulu ya. Kamu kan tau adik-adikmu sudah mulai tumbuh besar dan harus sekolah lanjut juga. Sekarang ibu dan bapa sudah tua. Kakak kamu juga sudah mulai menginjak usia nikah. De, kamu harus berhasil jadi sarjana dulu, terus kerja dan cari duit buat bantu adik-adikmu sekolah. Jadi kamu fokus kuliah yang bener dulu. Jodoh itu di tangan Tuhan. Kamu tak usah mengkhawatirkan jodoh tho De. Manusia itu kan diciptakan berpasang-pasangan. Jadi pasanganmu sudah tertulis di Lauf Mahfudz sana” Ucap ibu seolah-olah tau apa yang sedang aku risaukan. Aku menatap balik mata ibu. Garis-garis keriput sudah mulai bermunculan di raut mukanya. Iya, ibu sudah tua. Kelak aku akan menggantikan mereka untuk menjadi tulang punggung keluarga. Setelah kakak menikah, aku yang akan membiayai kehidupan adik-adik, ibu dan ayah. Seharusnya aku bisa menjadi lebih baik untuk masa depan yang lebih baik juga. “De, kalau kamu mau, kamu juga boleh ko kuliah di luar negeri itu pun kalau kamu dapat beasiswa. Seperti anak bos bapak kamu itu lho, sekarang dia dapat beasiswa S2 ke luar negeri. Ibu akan bangga kalau kamu juga bisa seperti itu” tambahnya. Kuliah ke luar negeri memang mimpi terbesarku. Dulu aku berpikir kalau aku kuliah ke luar negeri siapa yang akan menjaga ibu? Tapi ternyata ibu telah memberikan restunya untukku.
            Apa yang aku pikirkan barusan? Pacar? Harapan dan kebahagiaan? Ah bukankah belum waktunya aku memikirkan itu semua. Iya, masih banyak hal yang harus aku lakukan. Kebahagiaan ibu dan keluarga jauh lebih penting daripada kebahagiaanku sendiri. Aku yakin, suatu hari nanti pasti akan ada orang yang bisa menyayangiku dengan tulus, menerima aku apa adanya. Bisa mencintai kekurangan dan kelebihanku. Aku tau pasti aku akan mendapatkan seseorang yang seperti itu. Benar kata ibu, bukankah manusia itu diciptakan berpasang-pasangan? Ya, aku takkan khawatir lagi. Suatu hari nanti aku pasti akan dipertemukan dengan jodohku. Kini saatnya aku kembali merealisasikan mimpi-mimpi besarku. Memulai dengan semangat baru dan melayangkan harapan-harapan baru. Aku punya mimpi dalam genggamanku, apakah aku akan melemparkannya tinggi terbang bersama para awan atau akan tetap rendah dalam genggaman tanganku, itu adalah pilihan.
“Iya bu, Dea akan laksanakan nasihat ibu” kataku sambil memeluk ibuku.  Rasanya hangat sekali. Sekejap kekhawatiranku menghilang. Ibu memberikan solusi terbaik untukku. Solusi langsung mengarah kalbuku. Terima Kasih ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar