Senin, 30 April 2012

"Boleh kan ya sekali-kali kita ngeksis"
Seperti itulah, mahasiswa bernama Leni Siswati jurusan Agronomi dan Hortikultura fakultas pertanian IPB Dramaga bergaya di depan lab Biologi. Dengan pedenya foto narsis di tengah keramaian orang-orang yang baru saja selesai praktikum biologi.
Gkgkgkgkgk.....

Andai Pejabat DPR Berakhlak seperti Rasulallah

Andai pejabat DPR kita berakhlak seperti akhlaknya Rasulallah. Huft betapa indahnya. Kapan ya itu akan terjadi?
Aku bingung, sebenarnya apa yang ada dalam kepala para pejabat tinggi itu? Kenapa mereka begitu berkhianat? Amanah yang mereka tanggung bukan amanah kecil, tapi kenapa mereka begitu kejam pada rakyat.
Dahulu pada zaman Rasulallah, orang-orang takut memegang jabatan, takut dengan pertanggungjawaban di akhirat kelak, tapi saat ini orang-orang saling berebut kursi jabatan. Apakah mereka tak takut dengan kehidupan akhirat kelak? Ah aku lupa, mereka kan sudah tak ingat apa itu akhirat.
Kenapa pemerintahan di Indonesia begitu bobrok? Katanya negara agraris, tapi kenapa masih banyak yang kelaparan, masih banyak impor pangan? Kenapa?
Katanya negara dengan penduduk islam terbanyak di dunia, tapi kenapa banyak perusahaan berasal dari investasi negara-negara agama Yahudi?
Katanya negara kita kaya akan SDA, tapi mana? SDA kita dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mengedepankan kepentingan sendiri.
Mau dibawa kemana negara ini?
Sistem pendidikan, ekonomi, politik, alam, semuanya hancur.
Ayolah, kami butuh pemimpin-pemimpin seperti khaulafaurasyiddin. Seperti Rasulallah, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali. Masih adakah pemimpin seperti mereka?
Hutang Indonesia pada bank dunia sudah menumpuk. Kalau hutang itu dibebankan pada seluruh penduduk Indonesia, maka satu kepala harus menanggung sekitar 7 juta.
Apa 7 juta? Boro-boro buat bayar hutang negara, untuk keseharian makan saja susah.
Usia negara sudah 67 tahun. Uda tua, udah makan asam manis kehidupan. Tapi kenapa kehidupan kita gini-gini aja? Rasa nasionalis bangsa sudah memudar, tak ada.
Kalau ingin memperbaiki, harus mulai dari mana? Perbaiki pemerintahannya atau rakyatnya terlebih dahulu?
Ayolah, aku ingin Indonesiaku seperti negera lain. Seperti jepang, singapore, Korea. Kita bahkan tertinggal oleh negara tetangga sendiri. Malu donk. Indonesia bangsa yang besar. Kita punya SDA dan SDM yang besar, tapi gatot, tak termanfaatkan.
Miris sekali Indonesia ini.
Investasi dari asing sudah menjalar kemana-mana. Mereka mengeruk keuntungan dari negara kita, yang tertinggal buat kita hanya limbahnya  yang membuat penduduk sekitar menderita. Apakah indonesia tak mampu membeli investasi itu?
Aku tidak mengerti dengan orang-orang Indonesia..... L
Indonesia, aku ingin menangis,,,,,

AsramaTPB IPB


Asrama, sebuah kehidupan yang menurut sebagian orang sangat menjengkelkan.  Disinilah, asrama IPB TPB.
Asrama itu menyenangkan. Asrama sangat membantu mahsiswa baru untuk menemukan teman-teman baru, mendekatkan satu sama lain, dan menjadikan kita mengenal budaya lain. Itu urgensinya. Coba bayangkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Bogor dengan tiada sanak saudara yang kita kenal, mungkin kita akan kesusahan mencari kos-kosan atau kontrakan. Tapi asrama meniadakan keresahan kita. Bukankah kita harus bersyukur dengan ini?
Kau tau, sejak aku tinggal di asrama aku jadi tau kebudayaan orang Batak, orang Lampung, orang Padang dan masih banyak lagi. Ternyata Indonesia itu kaya akan budaya, bahasa, dan lain-lain. Aku pikir, aku beruntung daripada teman-temanku yang tidak merasakan kuliah. Bahkan sangat.
Terkadang kita tidak merasa cocok dengan teman, guys ngga enaknya asrama itu mungkin karena satu alasan tapi pelayanan yang IPB kasih itu lebih dari satu. Jangan pikirkan yang satu tapi pikirkan sebagian besarnya.
Kehidupan asrama itu penuh dengan aturan, ada jam malah lah, harus ikut kegiatan ini lah, itulah dan lain-lain. Begitulah kata mereka. Hey ada apa? Mereka benci dengan aturan asrama? Ketika itu Ka Devi bilang “jangan meruntuhkan pagar sebelum tau untuk apa pagar itu dibangun. Ketika kamu runtuhkan pagar itu dan ternyata dibalik pagar itu ada anjing galak, maka digong-gong lah kita”
Peraturan itu diciptakan untuk menciptakan keteraturan, menciptakan kedamaian. Bukankah hidup kita pun pakai peraturan, kita mandi dua kali sehari, hari ini pakai baju putih, besok ungu, lusa kuning, mau tidur pakai piyama, mau kuliah pakai kemeja bukankah itu adalah peraturan dan itu menjadikan kita nampak indah. Ya seperti itulah hakikat peraturan.
Ada apa dengan jiwa-jiwa yang menolak peraturan asrama?
Peraturan asrama menjadikan kita disiplin. Baik disiplin secara moral, disiplin belajar, disiplin dalam bersosialisasi dengan teman-teman dan masih banyak lagi disiplin lainnya.s asrama menjadikan kita hidup mandiri, mencuci, nyetrika, karena selamanya kita tak bisa bergantung pada orangtua atau pembantu. Kalaupun mau laundry, malu donk? Seperti inikah calon istri yang baik. Ngga ada nilai baktinya.
Hmm...... kehidupan asrama IPB TPB 2011/2012 akan segera berakhir. Segera kumpulkan kenangan-kenangan, bingkah dengan ukhuwah dan simpan rapat dimemori. Pasti aku akan sangat merindukan asrama. 

foto Leni Siswati bersama Sofiah Tullah,
teman sekamar asrama A2 lorong 2 kamar 154

Enyahlah Dariku


Aku diam saat ini, bungkam.
Aku berubah? Itu benar.
Itu karenamu teman.
Aku tak mau lagi.
Kita tak sejalan teman, aku tak bisa.
Aku gariskan perbedaan kita. Disini. Titik. Kita berbeda.
Andai kau mau perbaiki diri, aku terima.
Aku tak bisa bilang apa mauku.
Itu hak dan privasimu.
Tenang, meskipun aku diam, kita tetap teman mekipun kita semakin berbeda.
Semakin hari, aku semakin menjauh.
Panas kupingku dengar suaramu.
Aku benci mulutmu, kotor.
Kenapa kau seperti itu? Pendendam, ghibah, pemarah, pengutuk, penggosip.
Itu sama sekali bukan tipeku.
Aku tak ingin mendengar omongan busuk dan kotormu itu.
Aku ingin bersih.
Secara tak sengaja kau kotori pendengaranku, mendengar ghibahanmu itu aku jijik.
Aku pergi dan pergilah kau.
Aku tak butuh kamu.
Dan jangan butuhkan aku.
Cobalah berdiri sendiri, mandiri.
Jangan bergantung pada orang.
Aku cari yang lain, yang punya peta yang sama.
Maaf kawan, menjauhlah dariku.

Jumat, 27 April 2012

Mahasiswa IPB Narsis di Lahan Orang

Lihatlah, acara sosialisasi kampus malah jadi ajang narsis-narsisan. ada beberapa ribu foto narsis lagi hasil jepretan waktu sosialisai IGTS.... 
ckckckckck.....

P.27 kuu...

P.27 di depan gedung direktorat IPB
Abis Olah raga? hehehe.... enaknya bernarsis-narsis ria deh foto-foto sama anak-anak kelas...
Liat deh, pede banget ya ngga ada ujan ngga ada angin, eh malah pake payung, maklum IPB kan kota hujan, jadi kita selalu siap sedia payung kemana-mana, termasuk olah raga sambil payungan... lho..?

Asramakuuu......


Tanggal  18 Mei (kalau tidak salah), aku mendapat kabar bahwa aku diterima di Institut Pertanian Bogor jurusan Agronomi dan Hortikultura lewat internet. Seketika membaca pengumuman itu aku meneteskan air mata .Aku bersyukur bukan main. Saat itu juga aku memberi kabar kepada orangtua dan sahabat baikku. Dan dahsyatnya lagi, ternyata sahabatku juga diterima di IPB. Kebahagiaanku berlipat ganda saat itu.
Tepat 31 Mei tahun 2011, aku bersama ibuku menginjakkan tanah Bogor untuk kedua kalinya setelah pertama kalinya saar tamasya ke Taman Safari bersama romobngan pabrik.  Aku ke Bogor bermaksud untuk melakukan registrasi penerimaan Mahasiswa Baru. Pertama kali datang ke IPB, karena saat itu kami masuk lewat jalan Berlin, aku langsung disambut kemegahan gedung fakultas Pertanian, dan leih hebat lagi gedung departemen Agronomi dan Hortikultura menjadi berdiri gagah paling sangat pertama kulihat. Aku bangga luar biasa saat itu. Bukan main, megah sekali IPB ini. Pikirku dalam hati.
Setelah melakukan dua kali registrasi, tepatnya pada tanggal 31 Mei dan 27 Juni, maka pada tanggal 27 Juni pula aku masuk asrama TPB IPB. Gedung A2, lorong 2, kamar 154 itulah tempatku. Aku ditempatkan bersama 4 orang yang dengan variasi asal daerah. Dalam kamar dengan ukuran 4X4 meter, kami dikumpulkan. Sejak pertama diterima di IPB aku selalu berdoa kepada Allah agar teman kamarku adalah seseorang yang memiliki setidaknya prinsip dan kepribadian yang mirip-mirip, meskipun tidak sama. Atau secara kasarnya kami sati tipe, satu tujuan atau apalah. Namun ternyata tidak, malah jauh. Namun dengan sekuat mungkin, aku mencoba untuk bertehan dan menyesuaikan diri. Aku memang berprinsip “lu lu gue gue” artinya aku ngga mau ikut campur urusan orang karena aku juga ngga mau urusanku dicampuri.
Akhirnya masa pengenalan mahasiswa baru tiba juga, lihatlah foto kami berempat, foto dengan tampang imut-imut memakai nametag dengan bentuk aneh seperti itu serta caping yang melambangkan mahasiswa pertanian. Foto itu diambil di kamar.


lihatlah foto kami berempat, foto dengan tampang imut-imut memakai nametag dengan bentuk aneh seperti itu serta caping yang melambangkan mahasiswa pertanian. Foto itu diambil di kamar.
MPKMB IPB 48
Awalnya perasaan takut yang luar biasa dalam menghadapi masa ospek itu, masa perpeloncoan anak-anak baru. Apalagi aku trauma dengan masa ospek waktu SMA yang sangat menyebalkan dan penuh dengan ketegangan. Maskipun setelah bertanya pada kakak tingkat IPB yang katanya akan sangat menyenangkan, aku sama sekali tidak percaya. Biasalah, kakak tingkat itu memang hobi menenangkan adik-adiknya, menghibur adik-adiknya maskipun terkadang kenyataannya lebih mengerikan daripada yang dibayangkan. Aku mencoba dengan membesarkan diri dari ketakutanku, mencoba bertahan.

Ospek atau biasa disebut dengan MPKMB (Masa Pengenalan Mahasiswa Baru) dimulai juga. Awalnya kami dikeompokkan dengan kapasitas sekitar 50 orang yang nantinya akan disebut laskar Tani. Kemudian laskar-laskar itu akan kelompokkan lagi mejadi garda. Total seluruh laskar itu dibagi menjadi 5 kelompok besar atau yang nantinya akan disebut garda.
Sebelum hari H MPKMB, ada acara sosialisasi terlebih dahulu yang isinya peraturan dress untuk MPKMB, cara bikin nametag, bikin jargon dan yel-yel laskar dan masih banyak lagi isinya. Kami juga pernah melakukan buka bersama dengan laskar (karena waktu itu sudah memasuki bulan suci ramadhan).  Ternyata acara MPKMB aku rasakan manfaatnya adalah dapat menambah jumlah teman baru.
foto buka bersama with laskar 9
 


Dalam MPKMB itu ada KPK atau Komisi Penegak Kedisiplinan. Dia bertugas dalam menegakkan kedisiplinan selama sosialisasi MPKMB dan hari H MPKMB. Dia suka mengghukum anak-anak yang melanggar, mukanya sangar dan tak pernah senyum. Namun sejauh itu peranannya tidak menyimpang dari yang biasanya terjadi di SMA.
Hari H MPKMB tiba juga. Sekitar 2500 mahasiswa baru digiring ke dalam Gedung Graha Widya Wisuda. Alamak, dahsanya sekali hari itu, aku terpana penuh rasa bangga bisa masuk IPB. Aku bersyukur bukan main karena bisa tergabung dengan 2500 siswa yang berasal dari seluruh bagian Indonesia bahkan dari luar negeri pun ada, dari negara tetangga.
Aku bangga menjadi bagian dari IPB. Kami semua teriak meneriakkan yel-yel dan jargon masing-masing.kami bertepuk tangan sekeras-kerasnya, pokoknya hari itu kami bersenang-senang penuh rasa bangga.
 Sambutan yang diberikan begitu hangat, sekali lagi aku berdecak kagum melihat kumpulan manusia bak semut-semut menggerumuti perment dari tribun atas. Sambutan yang luar biasa, dari atas tribun sekali lagi aku berdecak kagum beratus-ratus kali. Jauh dari perkiraanku, MPKMB tidak seperti yang aku bayangkan. Sama sekali tidak ada kekerasan disini.
Sungguh, kekagumanku berbuncah saat rektor IPB membakar semangat pertanian kami dengan memberikan sambutannya dengan memaparkan apa itu pertanian, seperti apa kebanggaan mahasiswa pertanian, dan masih banyak lagi. Sungguh bapak rektor membuatku merasa bahwa aku tak  salah masuk Perguruan Tinggi ini. Saat itu suasana GWW penuh dengan riuh dengan tepuk tangan, dan auranya semakin panas. Panas dengan api semangat kami yang semakin berkobar.
Belum lagi ditambah dengan video-video motivasi tentang mimpi dan cita-cita. Ah GWW sudah kebakaran waktu itu, kebakaran semangat. Tak lupa juga dihadirkan seorang pembicara dalam AMT(Achievment Motivation Training) seketika itu air mata kami tumpah ruah. Seluruh mahasiswa baru (selanjutnya:maba) menangis ketika pembicara AMT itu memotivasi kami tentang ibu.
Bukan sampai disitu saja, masih banyak lagi hiburan-hiburan yang dipersembahkan oleh mahasiswa-mahasiswa IPB seperti UKM agriaswara, UKM gentra kaheman, dan UKM lainnya.
MPKMB oh MPKMB, aku pasti akan sangat merindukan masa itu.....
Itulah dahsyanya MPKMB. Sama sekali tak ada kekerasan sedikitpun di IPB. Yang ada malah sambutan hangat dan persembahan-persembahan yang luar biasa.
 

Kegiatan-kegiatan diasrama pun tak kalah dahsyatnya. Dengan seiringnya waktu suasana asrama mulai menghangat. Yang awalnya kami enggan dan sungkan bergaul, lama-lama kami mulai terbuka. Kami mulai kompak. Ada soga lorong yang mempertemukan kamu semua di lorong asrama, ada juga ngaji lorong abis subuh dan saat itu anak-anak malas bangun pagi, ada piket lorong yang tak banyak yang menjalankan. dengan berjalannya waktu, kami semakin akrab, saling menghibur, makan bareng, nonton bareng, ngerjain teman yang ultah dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan di asrama.
Setiap ada tugas, pasti contek-contekkan dengan dengan teman selorong, atau kalau mau ujian biasanya belajar bersama, makan bareng dan paling sebal kalau ada teman yang nitip beli makan, pinjem ini, pinjem itu, pokoknya kehidupan asrama saling melengkapi.
(foto anak-anak lorong 2 saat akan mengikuti welcome party di GWW)      
Kini kehidupan asrama tingga beberapa minggu lagi, bahkan saat ini sudah banyak yang pindah ke kosan. Sediiih.... pasti aku akan sangat merindukan asrama, lorong dua. Ngga terasa sudah hampir setahun di IPB. Maba akan segera datang dan siklus akan berganti. Nanti setelah di kontrakan atau di kosan pasti akan sangat sepi. Biasanya selalu ada anak teriak-teriak dilorong mengumumkan sesuatu, bercanda di lorong, ngerumpi di lorong, inilah, itulah arrrgh.....
Kehidupan itu hanya sekali dan takkan terulang lagi. Asrama hanya sekali, dan itu akan menjadi bagian dari memeri kehidupan ini. Selamat jalan teman, sudah saatnya kita menempuh jalan masing-masing. 

Selasa, 24 April 2012

SMPN 2 Jatitujuh daaah......



Fotonya bagus, tapi aku ngga ada di sana....  aku yang moto, jadi harus rela deh aku ngga bisa ngeksis...
oleh Leni Siswati lexi_syswa@yahoo.co.id

Foto Land 'A' Jadoel....




SMPN 2 Jatitujuh.
Foto ini diambil pada tahun 2008 di kelas 9A setelah pelajaran Olah Raga berlangsung. Lucu ya....! foto ini diambil ketika mendekati Ujian Nasional dan perpisahan. Aku pikir karena efektifitas sekolah sebentar lagi, makanya harus ada kenang-kenangan berupa foto kelas. Akhirnya jadilah foto ini. Dalam foto ini bukan seluruhnya anggota kelas sembilan A lho, ada penyusup juga dari kelas sebelah dari kelas sembilan B. Tuh yang pake seragam putih biru berdasi. wkwkwk.....

Minggu, 22 April 2012

The Flower


Seperti hari biasanya, kami The Flower siap rekaman lagu baru yang akan menjadi single kedua dalam album amatir kami. Band yang didirikan sekitar dua tahun yang lalu ini sudah berhasil menciptakan 7 lagu yang baru bisa dinikmati oleh siswa-siswa SMAN 1 LA tempat dimana aku menuntut ilmu. Akhir bulan lalu, kami memang sudah mempromosikan lagu-lagu kami ke beberapa radio lokal namun belum ada tanda-tanda hasil yang menunjukan apa pun. Aku pastikan semua warga SMAN 1 LA pasti mengenalku. Lagu-lagu kami memang lumayan banyak disukai di sekolah. Dan tak jarang kami mengisi acara besar di sekolah.
Dengan langkah tergesa-gesa, aku membanting tas kesayanganku ke sofa. Siang ini memang terasa sangat panas. Hanya ada aku dan Berta sang keyboardist di ruangan studio sempit ini. Studio yang kami bangun dengan jerih payah kami. Sebagian besar ayah Dea lah yang berkontribusi membangun ruang studio yang gelap dan pengap ini.
“Yang lain kemana?” tanya Berta sambil melirik kearahku. Keringatnya yang sebesar biji jagung berkumul di keningnya yang putih itu.
“Lagi pada beli minum di luar” ucapku seadanya sambil kipas-kipas dengan kertas koran.
“Nih” Berta mengulurkan air mineral yang tergenggam di tangannya. Aku hanya bisa menyerobot minuman itu dengan rakus. Sejak 3 jam yang lalu tenggorokanku memang sudah seperti padang pasir. Tercekik haus.
“Thanks” kataku kemudian meneguk air mineral itu. Aku dan Berta memang sudah seperti sahabat. Ia sangat baik dan perhatian padaku. Oh tidak, aku rasa ia sangat perhatian pada semua orang apa lagi kami personil The Flower. The Flower adalah sebuah band kecil terdiri dari Berta sebagai pemain keyboard, aku memegang bas, Dea sebagai vokal, Gerald sebagai pemain drum, Fuad di melodi dan Ola di Rithem. Entah bagaimana awalnya kami dipersatukan dalam The Flower tapi yang pasti untuk saat ini persahabatan kami begitu akrab.
“Hey, kalian udah datang tho” kata Fuad yang tiba-tiba nongol dari balik pintu. Tiba-tiba wajahnya memucat aku menebak bahwa ia akan berbicara serius kali ini. “Kalian tau ga sih kita sekolah kan tinggal 2 bulan lagi. Aku ga tau apakah aku bisa bertahan di Shaula lebih lama atau tidak. Soalnya kemarin orang tuaku sudah mulai membicarakan tentang masa depan ku. Aku harus kuliah di Purwekerto” Fuad memejamkan matanya. Maka kini giliran wajahku yang memucat. Iya, Ujian Nasional akan dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan lagi. Tak terasa waktu semakin dekat dengan perpisahan. Dan jauh berbulan-bulan yang lalu, aku sudah menyiapkan rencanaku untuk kuliah di Bogor. Maka aku pun sama dengan Fuad aku harus meninggalkan Shaula.
“Sama Ad. Aku juga harus kuliah. Huft....” ucapku sambil menghempaskan napas dalam-dalam. Aku tertunduk sedih, tak bisa kubayangkan ketika aku akan berpisah dengan teman-teman The Flower yang selama ini sangat berarti dalam hidupku. Aku ingat sekali ketika kami mengalami suka dan duka, ketika kami berjuang susah payah mencari dana untuk membangun studio, kemudian kami tawarkan lagu-lagu kami ke radio-radio bahkan tidak jarang radio-radio itu mengusir kami dan membentak-bentak kami karena menurutnya lagu kami jelek,
“Hey, kok malah  pada hening gini sih. Ayo kita latihan” teriak Dea yang baru saja datang bersama Ola dan Gerald ayo donk semangat” sambung Dea.
Kami semua bangkit dan mengambil alat musik masing-masing. Tapi setelah beberapa kali main, Dea malah tak berkonsentrasi padahal dia yang menyeru kepada kami supaya bersemangat namun nyatanya dia sendiri yang tak bersemangat. Menjilat ludah sendiri, kataku dalam hati.
“Kamu kenapa sih De?” Fuad mulai kesal dengan keadaan Dea yang gusar sejak tadi.
“Sori Ad perutku sakit. Hari pertama aku mens soalnya” Dea memegangi perutnya yang kesakitan. Namun kami tau sakitnya tak terlalu serius jadi sepertinya tak perlu ada tindakan yang serius pula.
“Yu udah kalau emang keadaannya kaya gitu berarti gak bisa dipaksain kayaknya. Soalnya mau dipaksain juga percuma kan. Latihannya cukup sampai disini aja” Fuad ngeloyor sambil menaruh Gitar melodi kesayangannya sekilah ia tampak marah pada Dea namun dari raut mukanya sejak baru datang tadi aku tau ada yang ngga beres dengannya.
“Kenapa tuh anak?” tanya Ola.
“Biarkan saja sepertinya dia sedang ada masalah pribadi. Soalnya tadi waktu baru datang ia tampak kusut dan lelah. Ya sudah kita pulang saja yuk”
“Berta, kau bisa antar aku pulang ngga? Kayaknya aku ngga bisa pulang sendiri nih” Dea berjalan mendekati Berta yang tengah siap-siap mencangklong tas kesayangannya.
“Maaf De, aku sedang buru-buru sekarang. Aku harus ke galeri pamanku. Ditunggu setengah jam lagi. Kau pulang bersama Gerald saja. Tak apa kan?”
“Ouh baiklah” sepertinya Dea agak kecewa. Sambil menahan perutnya yang nyeri Dea mendengus kesal.
Aku sendiri masih tak ingin pulang. Aku masih ingin di sini. Studio inilah sebenarnya yang kadang membuatku berhasil menciptakan lagu-lagu baru. Rumahku memang tak bersahabat denganku, betapa sebal dan membosankannya di sana. Semua telah pergi. Hanya tersisa aku sendiri di sini. Aku sendiri bingung apa yang akan aku lakukan. Dengan langkah kecil mendekati keayboard. Dulu mama sering mengajarkanku memainkan piano. Aku mencoba menyentuh tuts-tuts piano  dengan jari-jari mungilku, tiba-tiba aku rindu dengan mama ku. Dengan perasaan tidak sadar aku memainkan lagu yang dulu pernah diajarkan mama, aku pun sempat meneteskan air mata. Aku larut dalam permainanku sendiri hingga akhirnya aku tersadar ada seseorang yang bertepuk tangan ketika aku selesai memainkan lagu itu.
“Sejak kapan kamu ada di sini?”
“Tak lama kok. ada sesuatu yang ketinggalan. Ini...” kata Berta mengambil topi coklatnya. “Kamu kenapa?” tanya Berta saat ia melihat mataku yang memerah.
“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang rindu pada ibuku”
“Hm.... ikut aku yuk”
“Kemana?” Berta tak menjelaskan kemana kita akan pergi. Aku hanya bisa pasrah. Di dalam mobil kami saling terdiam. Aku larut dengan lamunanku sendiri begitu pun dengan Berta. Namun tiba-tiba ponselku berdering.
“Halo Ken” ucapku sambil mendekatkan ponsel ke telingaku. “Kayaknya ngga ada deh, kenapa?” aku melirik ke arah Berta, dia tampak serius mengemudi. “Oke deh besok sepulang sekoah ya aku tunggu. Bye...” aku menutup ponselku dan memasukannya ke dalam tas ku.
“Sudah berapa lama kamu jadian dengan Ken?”
“Tiga tahun”
“Kau mencintainya? Ah maaf. Pasti kamu sangat mencintainya”
“Yah ku harap begitu. Ah sudahlah. Ouh ya setelah lulus SMA kau mau kuliah dimana?”
“Aku mau ke Padang. Ibuku ada di sana. Dan mungkin aku akan mencari pekerjaan di sana. Kamu udah pasti kuliah ke Bogor?”
“Aku harap aku bisa di terima di sana”
“Sudah pasti. Kau kan pintar” aku tak mengerti apa yang ada dipikiran Berta. Aku pintar? sejak kapan? Hm... padahal jelas-jelas dia yang jenius. Ah Berta selalu merendah. Mobil Berta berhenti di lapangan parkir sebuah galeri lukisan. “Turun yuk..!”  sambungnya.
Ake berdecak kagum ketika menginjakan kakiku di lantai galeri ini hingga tak aku sadari langkahku tertinggal jauh oleh langkah Berta. Berta menarik tanganku dan membuyarkan lamunanku.
“Aduh Berta, kenapa mesti buru-buru sih? Aku kan mau lihat-lihat dulu”
“Kita harus bertemu dengan pamanku. Kita udah telat” Berta berjalan setengah berlari.
“Apa  urusannya denganku? Bukankah itu urusanmu?” tanyaku. Langkah Berta berhenti mendadak.
“Iya yah. Ya sudah kamu tunggu di sini. Jangan kemana-kemana. Oke”
“Jangan lama-lama yah” Berta mengangguk dan berjalan menjauh. Aku menunggu Berta sambil melihat-lihat beberapa lukisan yang terpampang di dinding-dinding lobi. Ada sebuah lukisan yang membuatku tak ingin berhenti untuk menatapnya. Aku tak ingin memalingkan wajahku dari lukisan ini. Melihatnya membuatku begitu tenang dan damai. Aku ingin membawanya pulang, tapi rasanya tidak mungkin. Aku yakin lukisan ini pasti sangat mahal bahkan ada lukisan yang harganya ratusan juta rupiah. Ah andai saja aku punya banyak uang maka akan ku bawa pulang lukisan itu. Berta tiba-tiba muncul dan menepuk punggungku. Aku kaget dan berbalik ke arahnya.
“Ih kamu bikin aku kaget tau. Aku kira kamu hantu” ucapku sambil mengatur napas. Entahlah tepukan Berta benar-benar membuatku shock.
“Sejak kapan ada hantu dengan tampang ganteng kaya gini? Hm... ada apa dengan lukisan ini?”
“Aku suka. Suka banget. Pengen bawa pulang tapi impossibble banget deh kayanya” ucapku sambil terus menatap lukisan ini.
“Kenapa kamu suka lukisan ini?”
“Lukisan ini bikin aku tenang. Membuatku tak ingin meninggalkan tempat ini. kenapa aku jadi kaya gini ya?”
“Tau deh.... kamu kaya yang terhipnotis aja”
“Iya kamu bener. Aku terhipnotis oleh lukisan ini”
“Ah udahlah ayo, aku mau nraktir kamu makan. Mau ga?”
“Setuju...” aku ga akan menolak pada siapapun yang akan mentraktirku makan, secara gratisan.
Di Grage mall cirebon, mobil Berta terparkir dengan rapi. Kami berdua masuk ke dalam mall. Selintas kami terlihat seperti pasangan kekasih. Ah ini adalah kali pertamanya aku dan Berta jalan berdua biasanya kami jalan berlima atau berenam. Berta cukup tampan sih, bahkan sebenarnya dia itu cool, jenius pula. Ah sayang  sekali kenapa dia belum punya cewek. Andai aku bisa jadi ceweknya, bahagianya...... hm.... aku mulai berafikir yang ngga ngga deh. Habis bagaimana lagi, bener deh Berta itu perfect banget. Tapi baiklah aku sudah punya Ken. Ken sudah cukup baik padaku. Meskipun kami jarang kontak karena Ken terlalu disibukkan dengan kegiatan ekstrakurikulernyanya dan aku pula sibuk dengan The Flower jadi kami jarang sekali ketemu atau jalan bareng.
“Makan dulu, terus kita nonton” ucap Berta. Aku kaget, nonton?
“Nonton?” tanyaku pada Berta. Aku mendongakan kepalaku tepat di depan wajahnya. Aku kaget sekali ketika menyadari posisi ku sangat dekat dengannya.
“Iya. Kenapa?” jawabnya sambil tersenyum.
“Ah ngga kenapa-kenapa” jawabku sambil menjauhi wajahnya.  Aku ingin bertanya lebih lanjut, namun kuurungkan niatku.
            Setelah makan dan merasa kenyang, kami membeli dua tiket nonton.
“Berta, aku ke toilet dulu ya. Kamu duluan aja, nanti aku nyusul” ucapku pada Berta dan dia mengangguk. Sebelum nonton biasanya aku buang air kecil terlebih dahulu biar ngga kebelet di tengah pas nonton, soalnya diruangan berAC biasanya aku akan sering tak kuasa menahan buang air kecil. Suasana ruangan bioskop pun sudah dibuka dan masih sangat sepi. Aku melangkah masuk ke ruangan bioskop menyusul Berta dan aku begitu terkejut luar biasa. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Seketika Berta memelukku dari samping dan menutup mataku dengan tangannya. Aku tak kuat melihatnya. Berta segera menarikku dan keluar dari ruangan bioskop. Aku tak bisa menahan air mataku.
“Berta, bisa anter aku pulang?” tanyaku padanya dengan perasaan sangat kacau. Ah aku sudah tak bisa berfikir apa-apa lagi. Aku segera masuk mobil dan Berta pun sangat mengerti dengan keadaanku.
“Pulang?”
“Ke rumah Ola. Aku ga bisa sendirian”
“Halo Ola, kamu ada di rumah?. Oke, aku sama Saski mo ke rumah kamu. Kamu jangan kemana-mana ya” ucap Berta lewat ponselnya. Ia memastikan agar Ola benar ada di rumah.
“Thanks ya” air mataku masih belum mau berhenti mengalir. Ah begitu sakit rasanya. Ken berciuman dengan wanita litu. Aku sering melihat wajah wanita itu, dia memang salah satu aktivis OSIS. Tapi aku tak tau siapa namanya.
Sesampainya dirumah Ola, aku langsung memeluknya. Dan Ola menyambut pelukannku.
“Kenapa Sas?” tanya Ola. Aku tak menjawab. Dan Berta pun tetap diam.
“Ke taman belakang aja La. Saski lagi butuh temen. Jiwanya lagi terguncang“  kami bertiga melangkah menuju taman belakang. Aku melangkah tetap dalam pelukan Ola an Berta berjalan di belakang kami.
“Kenapa Sas, cerita donk” tanya Ola yang nampaknya sangat penasaran.
“Tadi kita liat Ken sama Helena ciuman di bioskop” jawab Berta.
“Apa? Ken sama Helena? Kurang ajar banget sih tuh anak” kata Ola garang.
Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Menghapus air mataku dan menarik napasku dalam-dalam.
“Udah lah, mungkin ini sudah waktunya. Dari dulu aku udah ngerasa ada yang beda dari Ken. Apalagi semenjak masuk OSIS dia nampak beda. Dan mungkin ini jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku selama ini. Kalian ngga usah khawatir. Aku baik-baik saja kok” ucapku seraya mencoba tersenyum pada kedua sahabatku itu.
Tiga bulan kemudian
Aku telah memutuskan hubungan dengan ken. Hubungan itu memang sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Sakit hatiku sudah mulai menghilang, lagipula selama ini pun sebenarnya aku tak terlalu mengharapkan Ken. Aku tak pernah menganggap Ken spesial.
Saski, ada paket tuh buat kamu” seru ayah dari lantai dasar. Aku sangat penasaran paket apaan? Dari siapa pula? aku menuruni anak tangga rumah dengan perasaan deg-degan dan penasaran. Aku  melihat sebuah benda persegi panjang dengan luas 1 m2 tergeletak dekat kursi rumah. Benda itu dibungkus dengan kertas berwarna coklat. Aku menyobek kertas itu dan alangkah terkejutnya benda itu adalah lukisan yang pernah aku lihat di galery milik paman Berta. Aku  juga menemukan amplop Biru muda di dalam lukisan itu.
Aku ngga jadi jual lukisan ini sejak kamu bilang kalau kamu sangat menyukai lukisan ini.  Aku sadar lukisan ini sangat berharga bagiku karena ini adalah lukisan pertamaku selain itu aku melukis ini dengan bimbingan ayahku sebelum ia meninggal. Intinya aku tak ingin melepaskan Lukisan ini. Namun aku titipkan lukisan ini kepadamu hingga suatu hari disaat aku sudah siap aku akan menjemput lukisan ini dan menjemputmu. Aku sayang kamu Saski
Berta Baratha.
Aku meneteskan air mata sembari memeluk kertas surat itu. Aku  tak menyangka Berta menyayangi dan mencintaiku. Sudah lama aku memendam perasaan untuk Berta namun aku tak berani berbuat apa-apa. Setelah tau Berta naksir gadis lain yang aku pun tak tau siapa gadis itu akhirnya aku memutuskan untuk menerima Ken yang selama ini meminta cintaku. Namun aku tau Berta tak pernah dekat dengan cewek manapun. Kini aku tau Berta berada di Padang. Dan entah kapan ia akan kembali. Namun aku yakin Berta akan menjemputku dan menepati janjinya.