"Boleh kan ya sekali-kali kita ngeksis"
Seperti itulah, mahasiswa bernama Leni Siswati jurusan Agronomi dan Hortikultura fakultas pertanian IPB Dramaga bergaya di depan lab Biologi. Dengan pedenya foto narsis di tengah keramaian orang-orang yang baru saja selesai praktikum biologi.
Gkgkgkgkgk.....
Senin, 30 April 2012
Andai Pejabat DPR Berakhlak seperti Rasulallah
Andai pejabat
DPR kita berakhlak seperti akhlaknya Rasulallah. Huft betapa indahnya. Kapan ya
itu akan terjadi?
Aku bingung,
sebenarnya apa yang ada dalam kepala para pejabat tinggi itu? Kenapa mereka
begitu berkhianat? Amanah yang mereka tanggung bukan amanah kecil, tapi kenapa
mereka begitu kejam pada rakyat.
Dahulu pada
zaman Rasulallah, orang-orang takut memegang jabatan, takut dengan
pertanggungjawaban di akhirat kelak, tapi saat ini orang-orang saling berebut
kursi jabatan. Apakah mereka tak takut dengan kehidupan akhirat kelak? Ah aku
lupa, mereka kan sudah tak ingat apa itu akhirat.
Kenapa
pemerintahan di Indonesia begitu bobrok? Katanya negara agraris, tapi kenapa
masih banyak yang kelaparan, masih banyak impor pangan? Kenapa?
Katanya negara
dengan penduduk islam terbanyak di dunia, tapi kenapa banyak perusahaan berasal
dari investasi negara-negara agama Yahudi?
Katanya negara
kita kaya akan SDA, tapi mana? SDA kita dimanfaatkan orang-orang yang tidak
bertanggung jawab yang mengedepankan kepentingan sendiri.
Mau dibawa
kemana negara ini?
Sistem
pendidikan, ekonomi, politik, alam, semuanya hancur.
Ayolah, kami
butuh pemimpin-pemimpin seperti khaulafaurasyiddin. Seperti Rasulallah, Abu
Bakar, Umar, Usman, Ali. Masih adakah pemimpin seperti mereka?
Hutang
Indonesia pada bank dunia sudah menumpuk. Kalau hutang itu dibebankan pada
seluruh penduduk Indonesia, maka satu kepala harus menanggung sekitar 7 juta.
Apa 7 juta? Boro-boro buat bayar hutang negara,
untuk keseharian makan saja susah.
Usia negara sudah
67 tahun. Uda tua, udah makan asam manis kehidupan. Tapi kenapa kehidupan kita gini-gini aja? Rasa nasionalis bangsa
sudah memudar, tak ada.
Kalau ingin
memperbaiki, harus mulai dari mana? Perbaiki pemerintahannya atau rakyatnya
terlebih dahulu?
Ayolah, aku
ingin Indonesiaku seperti negera lain. Seperti jepang, singapore, Korea. Kita
bahkan tertinggal oleh negara tetangga sendiri. Malu donk. Indonesia bangsa yang besar. Kita punya SDA dan SDM yang
besar, tapi gatot, tak termanfaatkan.
Miris sekali
Indonesia ini.
Investasi dari
asing sudah menjalar kemana-mana. Mereka mengeruk keuntungan dari negara kita,
yang tertinggal buat kita hanya limbahnya
yang membuat penduduk sekitar menderita. Apakah indonesia tak mampu
membeli investasi itu?
Aku tidak
mengerti dengan orang-orang Indonesia..... L
Indonesia, aku
ingin menangis,,,,,
AsramaTPB IPB
Asrama, sebuah kehidupan yang menurut sebagian orang sangat
menjengkelkan. Disinilah, asrama IPB
TPB.
Asrama itu menyenangkan. Asrama sangat membantu mahsiswa baru
untuk menemukan teman-teman baru, mendekatkan satu sama lain, dan menjadikan
kita mengenal budaya lain. Itu urgensinya. Coba bayangkan ketika pertama kali
menginjakkan kaki di Kota Bogor dengan tiada sanak saudara yang kita kenal,
mungkin kita akan kesusahan mencari kos-kosan atau kontrakan. Tapi asrama
meniadakan keresahan kita. Bukankah kita harus bersyukur dengan ini?
Kau tau, sejak aku tinggal di asrama aku jadi tau kebudayaan
orang Batak, orang Lampung, orang Padang dan masih banyak lagi. Ternyata
Indonesia itu kaya akan budaya, bahasa, dan lain-lain. Aku pikir, aku beruntung
daripada teman-temanku yang tidak merasakan kuliah. Bahkan sangat.
Terkadang kita tidak merasa cocok dengan teman, guys ngga
enaknya asrama itu mungkin karena satu alasan tapi pelayanan yang IPB kasih itu
lebih dari satu. Jangan pikirkan yang satu tapi pikirkan sebagian besarnya.
Kehidupan asrama itu
penuh dengan aturan, ada jam malah lah, harus ikut kegiatan ini lah, itulah dan
lain-lain.
Begitulah kata mereka. Hey ada apa? Mereka benci dengan aturan asrama? Ketika
itu Ka Devi bilang “jangan meruntuhkan pagar sebelum tau untuk apa pagar itu
dibangun. Ketika kamu runtuhkan pagar itu dan ternyata dibalik pagar itu ada
anjing galak, maka digong-gong lah kita”
Peraturan itu diciptakan untuk menciptakan keteraturan, menciptakan
kedamaian. Bukankah hidup kita pun pakai peraturan, kita mandi dua kali sehari,
hari ini pakai baju putih, besok ungu, lusa kuning, mau tidur pakai piyama, mau
kuliah pakai kemeja bukankah itu adalah peraturan dan itu menjadikan kita
nampak indah. Ya seperti itulah hakikat peraturan.
Ada apa dengan jiwa-jiwa yang menolak peraturan asrama?
Peraturan asrama menjadikan kita disiplin. Baik disiplin
secara moral, disiplin belajar, disiplin dalam bersosialisasi dengan
teman-teman dan masih banyak lagi disiplin lainnya.s asrama menjadikan kita
hidup mandiri, mencuci, nyetrika, karena selamanya kita tak bisa bergantung
pada orangtua atau pembantu. Kalaupun mau laundry, malu donk? Seperti inikah
calon istri yang baik. Ngga ada nilai baktinya.
Hmm...... kehidupan asrama IPB TPB 2011/2012 akan segera
berakhir. Segera kumpulkan kenangan-kenangan, bingkah dengan ukhuwah dan simpan
rapat dimemori. Pasti aku akan sangat merindukan asrama.
![]() | ||
| foto Leni Siswati bersama Sofiah Tullah, | teman sekamar asrama A2 lorong 2 kamar 154 |
Enyahlah Dariku
Aku diam saat ini, bungkam.
Aku berubah? Itu benar.
Itu karenamu teman.
Aku tak mau lagi.
Kita tak sejalan teman, aku
tak bisa.
Aku gariskan perbedaan kita. Disini.
Titik. Kita berbeda.
Andai kau mau perbaiki diri,
aku terima.
Aku tak bisa bilang apa mauku.
Itu hak dan privasimu.
Tenang, meskipun aku diam,
kita tetap teman mekipun kita semakin berbeda.
Semakin hari, aku semakin
menjauh.
Panas kupingku dengar suaramu.
Aku benci mulutmu, kotor.
Kenapa kau seperti itu? Pendendam,
ghibah, pemarah, pengutuk, penggosip.
Itu sama sekali bukan tipeku.
Aku tak ingin mendengar
omongan busuk dan kotormu itu.
Aku ingin bersih.
Secara tak sengaja kau kotori
pendengaranku, mendengar ghibahanmu itu aku
jijik.
Aku pergi dan pergilah kau.
Aku tak butuh kamu.
Dan jangan butuhkan aku.
Cobalah berdiri sendiri,
mandiri.
Jangan bergantung pada orang.
Aku cari yang lain, yang punya
peta yang sama.
Maaf kawan, menjauhlah dariku.
Jumat, 27 April 2012
Mahasiswa IPB Narsis di Lahan Orang
Lihatlah, acara sosialisasi kampus malah jadi ajang narsis-narsisan. ada beberapa ribu foto narsis lagi hasil jepretan waktu sosialisai IGTS....
ckckckckck.....
P.27 kuu...
![]() | |
| P.27 di depan gedung direktorat IPB |
Liat deh, pede banget ya ngga ada ujan ngga ada angin, eh malah pake payung, maklum IPB kan kota hujan, jadi kita selalu siap sedia payung kemana-mana, termasuk olah raga sambil payungan... lho..?
Asramakuuu......
Tanggal 18 Mei (kalau tidak salah), aku mendapat kabar bahwa aku diterima di Institut Pertanian Bogor jurusan Agronomi dan Hortikultura lewat internet. Seketika membaca pengumuman itu aku meneteskan air mata .Aku bersyukur bukan main. Saat itu juga aku memberi kabar kepada orangtua dan sahabat baikku. Dan dahsyatnya lagi, ternyata sahabatku juga diterima di IPB. Kebahagiaanku berlipat ganda saat itu.
Tepat 31 Mei tahun 2011, aku bersama ibuku menginjakkan tanah Bogor untuk kedua kalinya setelah pertama kalinya saar tamasya ke Taman Safari bersama romobngan pabrik. Aku ke Bogor bermaksud untuk melakukan registrasi penerimaan Mahasiswa Baru. Pertama kali datang ke IPB, karena saat itu kami masuk lewat jalan Berlin, aku langsung disambut kemegahan gedung fakultas Pertanian, dan leih hebat lagi gedung departemen Agronomi dan Hortikultura menjadi berdiri gagah paling sangat pertama kulihat. Aku bangga luar biasa saat itu. Bukan main, megah sekali IPB ini. Pikirku dalam hati.
Setelah melakukan dua kali registrasi, tepatnya pada tanggal 31 Mei dan 27 Juni, maka pada tanggal 27 Juni pula aku masuk asrama TPB IPB. Gedung A2, lorong 2, kamar 154 itulah tempatku. Aku ditempatkan bersama 4 orang yang dengan variasi asal daerah. Dalam kamar dengan ukuran 4X4 meter, kami dikumpulkan. Sejak pertama diterima di IPB aku selalu berdoa kepada Allah agar teman kamarku adalah seseorang yang memiliki setidaknya prinsip dan kepribadian yang mirip-mirip, meskipun tidak sama. Atau secara kasarnya kami sati tipe, satu tujuan atau apalah. Namun ternyata tidak, malah jauh. Namun dengan sekuat mungkin, aku mencoba untuk bertehan dan menyesuaikan diri. Aku memang berprinsip “lu lu gue gue” artinya aku ngga mau ikut campur urusan orang karena aku juga ngga mau urusanku dicampuri.
Akhirnya masa pengenalan mahasiswa baru tiba juga, lihatlah foto kami berempat, foto dengan tampang imut-imut memakai nametag dengan bentuk aneh seperti itu serta caping yang melambangkan mahasiswa pertanian. Foto itu diambil di kamar.
Tepat 31 Mei tahun 2011, aku bersama ibuku menginjakkan tanah Bogor untuk kedua kalinya setelah pertama kalinya saar tamasya ke Taman Safari bersama romobngan pabrik. Aku ke Bogor bermaksud untuk melakukan registrasi penerimaan Mahasiswa Baru. Pertama kali datang ke IPB, karena saat itu kami masuk lewat jalan Berlin, aku langsung disambut kemegahan gedung fakultas Pertanian, dan leih hebat lagi gedung departemen Agronomi dan Hortikultura menjadi berdiri gagah paling sangat pertama kulihat. Aku bangga luar biasa saat itu. Bukan main, megah sekali IPB ini. Pikirku dalam hati.
Setelah melakukan dua kali registrasi, tepatnya pada tanggal 31 Mei dan 27 Juni, maka pada tanggal 27 Juni pula aku masuk asrama TPB IPB. Gedung A2, lorong 2, kamar 154 itulah tempatku. Aku ditempatkan bersama 4 orang yang dengan variasi asal daerah. Dalam kamar dengan ukuran 4X4 meter, kami dikumpulkan. Sejak pertama diterima di IPB aku selalu berdoa kepada Allah agar teman kamarku adalah seseorang yang memiliki setidaknya prinsip dan kepribadian yang mirip-mirip, meskipun tidak sama. Atau secara kasarnya kami sati tipe, satu tujuan atau apalah. Namun ternyata tidak, malah jauh. Namun dengan sekuat mungkin, aku mencoba untuk bertehan dan menyesuaikan diri. Aku memang berprinsip “lu lu gue gue” artinya aku ngga mau ikut campur urusan orang karena aku juga ngga mau urusanku dicampuri.
Akhirnya masa pengenalan mahasiswa baru tiba juga, lihatlah foto kami berempat, foto dengan tampang imut-imut memakai nametag dengan bentuk aneh seperti itu serta caping yang melambangkan mahasiswa pertanian. Foto itu diambil di kamar.
![]() |
| MPKMB IPB 48 |
Awalnya perasaan takut yang luar biasa dalam menghadapi masa ospek itu, masa perpeloncoan anak-anak baru. Apalagi aku trauma dengan masa ospek waktu SMA yang sangat menyebalkan dan penuh dengan ketegangan. Maskipun setelah bertanya pada kakak tingkat IPB yang katanya akan sangat menyenangkan, aku sama sekali tidak percaya. Biasalah, kakak tingkat itu memang hobi menenangkan adik-adiknya, menghibur adik-adiknya maskipun terkadang kenyataannya lebih mengerikan daripada yang dibayangkan. Aku mencoba dengan membesarkan diri dari ketakutanku, mencoba bertahan.
Ospek atau biasa disebut dengan MPKMB (Masa Pengenalan Mahasiswa Baru) dimulai juga. Awalnya kami dikeompokkan dengan kapasitas sekitar 50 orang yang nantinya akan disebut laskar Tani. Kemudian laskar-laskar itu akan kelompokkan lagi mejadi garda. Total seluruh laskar itu dibagi menjadi 5 kelompok besar atau yang nantinya akan disebut garda.
Sebelum hari H MPKMB, ada acara sosialisasi terlebih dahulu yang isinya peraturan dress untuk MPKMB, cara bikin nametag, bikin jargon dan yel-yel laskar dan masih banyak lagi isinya. Kami juga pernah melakukan buka bersama dengan laskar (karena waktu itu sudah memasuki bulan suci ramadhan). Ternyata acara MPKMB aku rasakan manfaatnya adalah dapat menambah jumlah teman baru.
Sebelum hari H MPKMB, ada acara sosialisasi terlebih dahulu yang isinya peraturan dress untuk MPKMB, cara bikin nametag, bikin jargon dan yel-yel laskar dan masih banyak lagi isinya. Kami juga pernah melakukan buka bersama dengan laskar (karena waktu itu sudah memasuki bulan suci ramadhan). Ternyata acara MPKMB aku rasakan manfaatnya adalah dapat menambah jumlah teman baru.
![]() |
| foto buka bersama with laskar 9 |

Dalam MPKMB itu ada KPK atau Komisi Penegak Kedisiplinan. Dia bertugas dalam menegakkan kedisiplinan selama sosialisasi MPKMB dan hari H MPKMB. Dia suka mengghukum anak-anak yang melanggar, mukanya sangar dan tak pernah senyum. Namun sejauh itu peranannya tidak menyimpang dari yang biasanya terjadi di SMA.
Hari H MPKMB tiba juga. Sekitar 2500 mahasiswa baru digiring ke dalam Gedung Graha Widya Wisuda. Alamak, dahsanya sekali hari itu, aku terpana penuh rasa bangga bisa masuk IPB. Aku bersyukur bukan main karena bisa tergabung dengan 2500 siswa yang berasal dari seluruh bagian Indonesia bahkan dari luar negeri pun ada, dari negara tetangga.
Hari H MPKMB tiba juga. Sekitar 2500 mahasiswa baru digiring ke dalam Gedung Graha Widya Wisuda. Alamak, dahsanya sekali hari itu, aku terpana penuh rasa bangga bisa masuk IPB. Aku bersyukur bukan main karena bisa tergabung dengan 2500 siswa yang berasal dari seluruh bagian Indonesia bahkan dari luar negeri pun ada, dari negara tetangga.
Aku bangga menjadi bagian dari IPB. Kami semua teriak meneriakkan yel-yel dan jargon masing-masing.kami bertepuk tangan sekeras-kerasnya, pokoknya hari itu kami bersenang-senang penuh rasa bangga.
Sambutan yang diberikan begitu hangat, sekali lagi aku berdecak kagum melihat kumpulan manusia bak semut-semut menggerumuti perment dari tribun atas. Sambutan yang luar biasa, dari atas tribun sekali lagi aku berdecak kagum beratus-ratus kali. Jauh dari perkiraanku, MPKMB tidak seperti yang aku bayangkan. Sama sekali tidak ada kekerasan disini.
Sungguh, kekagumanku berbuncah saat rektor IPB membakar semangat pertanian kami dengan memberikan sambutannya dengan memaparkan apa itu pertanian, seperti apa kebanggaan mahasiswa pertanian, dan masih banyak lagi. Sungguh bapak rektor membuatku merasa bahwa aku tak salah masuk Perguruan Tinggi ini. Saat itu suasana GWW penuh dengan riuh dengan tepuk tangan, dan auranya semakin panas. Panas dengan api semangat kami yang semakin berkobar.
Belum lagi ditambah dengan video-video motivasi tentang mimpi dan cita-cita. Ah GWW sudah kebakaran waktu itu, kebakaran semangat. Tak lupa juga dihadirkan seorang pembicara dalam AMT(Achievment Motivation Training) seketika itu air mata kami tumpah ruah. Seluruh mahasiswa baru (selanjutnya:maba) menangis ketika pembicara AMT itu memotivasi kami tentang ibu.
Bukan sampai disitu saja, masih banyak lagi hiburan-hiburan yang dipersembahkan oleh mahasiswa-mahasiswa IPB seperti UKM agriaswara, UKM gentra kaheman, dan UKM lainnya.
MPKMB oh MPKMB, aku pasti akan sangat merindukan masa itu.....
Itulah dahsyanya MPKMB. Sama sekali tak ada kekerasan sedikitpun di IPB. Yang ada malah sambutan hangat dan persembahan-persembahan yang luar biasa.
Sambutan yang diberikan begitu hangat, sekali lagi aku berdecak kagum melihat kumpulan manusia bak semut-semut menggerumuti perment dari tribun atas. Sambutan yang luar biasa, dari atas tribun sekali lagi aku berdecak kagum beratus-ratus kali. Jauh dari perkiraanku, MPKMB tidak seperti yang aku bayangkan. Sama sekali tidak ada kekerasan disini.
Sungguh, kekagumanku berbuncah saat rektor IPB membakar semangat pertanian kami dengan memberikan sambutannya dengan memaparkan apa itu pertanian, seperti apa kebanggaan mahasiswa pertanian, dan masih banyak lagi. Sungguh bapak rektor membuatku merasa bahwa aku tak salah masuk Perguruan Tinggi ini. Saat itu suasana GWW penuh dengan riuh dengan tepuk tangan, dan auranya semakin panas. Panas dengan api semangat kami yang semakin berkobar.
Belum lagi ditambah dengan video-video motivasi tentang mimpi dan cita-cita. Ah GWW sudah kebakaran waktu itu, kebakaran semangat. Tak lupa juga dihadirkan seorang pembicara dalam AMT(Achievment Motivation Training) seketika itu air mata kami tumpah ruah. Seluruh mahasiswa baru (selanjutnya:maba) menangis ketika pembicara AMT itu memotivasi kami tentang ibu.
Bukan sampai disitu saja, masih banyak lagi hiburan-hiburan yang dipersembahkan oleh mahasiswa-mahasiswa IPB seperti UKM agriaswara, UKM gentra kaheman, dan UKM lainnya.
MPKMB oh MPKMB, aku pasti akan sangat merindukan masa itu.....
Itulah dahsyanya MPKMB. Sama sekali tak ada kekerasan sedikitpun di IPB. Yang ada malah sambutan hangat dan persembahan-persembahan yang luar biasa.

Kegiatan-kegiatan diasrama pun tak kalah dahsyatnya. Dengan seiringnya waktu suasana asrama mulai menghangat. Yang awalnya kami enggan dan sungkan bergaul, lama-lama kami mulai terbuka. Kami mulai kompak. Ada soga lorong yang mempertemukan kamu semua di lorong asrama, ada juga ngaji lorong abis subuh dan saat itu anak-anak malas bangun pagi, ada piket lorong yang tak banyak yang menjalankan. dengan berjalannya waktu, kami semakin akrab, saling menghibur, makan bareng, nonton bareng, ngerjain teman yang ultah dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan di asrama.
Setiap ada tugas, pasti contek-contekkan dengan dengan teman selorong, atau kalau mau ujian biasanya belajar bersama, makan bareng dan paling sebal kalau ada teman yang nitip beli makan, pinjem ini, pinjem itu, pokoknya kehidupan asrama saling melengkapi.
Setiap ada tugas, pasti contek-contekkan dengan dengan teman selorong, atau kalau mau ujian biasanya belajar bersama, makan bareng dan paling sebal kalau ada teman yang nitip beli makan, pinjem ini, pinjem itu, pokoknya kehidupan asrama saling melengkapi.
![]() | ||||||
| (foto anak-anak lorong 2 saat akan mengikuti welcome party di GWW) |
Kini kehidupan asrama tingga beberapa minggu lagi, bahkan saat ini sudah banyak yang pindah ke kosan. Sediiih.... pasti aku akan sangat merindukan asrama, lorong dua. Ngga terasa sudah hampir setahun di IPB. Maba akan segera datang dan siklus akan berganti. Nanti setelah di kontrakan atau di kosan pasti akan sangat sepi. Biasanya selalu ada anak teriak-teriak dilorong mengumumkan sesuatu, bercanda di lorong, ngerumpi di lorong, inilah, itulah arrrgh.....
Kehidupan itu hanya sekali dan takkan terulang lagi. Asrama hanya sekali, dan itu akan menjadi bagian dari memeri kehidupan ini. Selamat jalan teman, sudah saatnya kita menempuh jalan masing-masing.
Kehidupan itu hanya sekali dan takkan terulang lagi. Asrama hanya sekali, dan itu akan menjadi bagian dari memeri kehidupan ini. Selamat jalan teman, sudah saatnya kita menempuh jalan masing-masing.
Selasa, 24 April 2012
SMPN 2 Jatitujuh daaah......
Fotonya bagus, tapi aku ngga ada di sana.... aku yang moto, jadi
harus rela deh aku ngga bisa ngeksis...
oleh Leni Siswati lexi_syswa@yahoo.co.id
oleh Leni Siswati lexi_syswa@yahoo.co.id
Foto Land 'A' Jadoel....
SMPN 2 Jatitujuh.
Foto ini diambil pada tahun 2008 di kelas 9A setelah
pelajaran Olah Raga berlangsung. Lucu ya....! foto ini diambil ketika mendekati
Ujian Nasional dan perpisahan. Aku pikir karena efektifitas sekolah sebentar
lagi, makanya harus ada kenang-kenangan berupa foto kelas. Akhirnya jadilah
foto ini. Dalam foto ini bukan seluruhnya anggota kelas sembilan A lho, ada
penyusup juga dari kelas sebelah dari kelas sembilan B. Tuh yang pake seragam
putih biru berdasi. wkwkwk.....
Minggu, 22 April 2012
The Flower
Seperti hari biasanya, kami The Flower siap rekaman lagu baru yang akan menjadi single kedua dalam album amatir kami. Band yang didirikan sekitar dua tahun yang lalu ini sudah berhasil menciptakan 7 lagu yang baru bisa dinikmati oleh siswa-siswa SMAN 1 LA tempat dimana aku menuntut ilmu. Akhir bulan lalu, kami memang sudah mempromosikan lagu-lagu kami ke beberapa radio lokal namun belum ada tanda-tanda hasil yang menunjukan apa pun. Aku pastikan semua warga SMAN 1 LA pasti mengenalku. Lagu-lagu kami memang lumayan banyak disukai di sekolah. Dan tak jarang kami mengisi acara besar di sekolah.
Dengan
langkah tergesa-gesa, aku membanting tas kesayanganku ke sofa. Siang ini memang
terasa sangat panas. Hanya ada aku dan Berta sang keyboardist di ruangan studio
sempit ini. Studio yang kami bangun dengan jerih payah kami. Sebagian besar
ayah Dea lah yang berkontribusi membangun ruang studio yang gelap dan pengap
ini.
“Yang
lain kemana?” tanya Berta sambil melirik kearahku. Keringatnya yang sebesar
biji jagung berkumul di keningnya yang putih itu.
“Lagi
pada beli minum di luar” ucapku seadanya sambil kipas-kipas dengan kertas koran.
“Nih”
Berta mengulurkan air mineral yang tergenggam di tangannya. Aku hanya bisa
menyerobot minuman itu dengan rakus. Sejak 3 jam yang lalu tenggorokanku memang
sudah seperti padang pasir. Tercekik haus.
“Thanks”
kataku kemudian meneguk air mineral itu. Aku dan Berta memang sudah seperti
sahabat. Ia sangat baik dan perhatian padaku. Oh tidak, aku rasa ia sangat
perhatian pada semua orang apa lagi kami personil The Flower. The Flower adalah
sebuah band kecil terdiri dari Berta sebagai pemain keyboard, aku memegang bas,
Dea sebagai vokal, Gerald sebagai pemain drum, Fuad di melodi dan Ola di
Rithem. Entah bagaimana awalnya kami dipersatukan dalam The Flower tapi yang
pasti untuk saat ini persahabatan kami begitu akrab.
“Hey,
kalian udah datang tho” kata Fuad yang tiba-tiba nongol dari balik pintu.
Tiba-tiba wajahnya memucat aku menebak bahwa ia akan berbicara serius kali ini.
“Kalian tau ga sih kita sekolah kan tinggal 2 bulan lagi. Aku ga tau apakah aku
bisa bertahan di Shaula lebih lama atau tidak. Soalnya kemarin orang tuaku
sudah mulai membicarakan tentang masa depan ku. Aku harus kuliah di Purwekerto”
Fuad memejamkan matanya. Maka kini giliran wajahku yang memucat. Iya, Ujian Nasional
akan dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan lagi. Tak terasa waktu semakin
dekat dengan perpisahan. Dan jauh berbulan-bulan yang lalu, aku sudah
menyiapkan rencanaku untuk kuliah di Bogor. Maka aku pun sama dengan Fuad aku
harus meninggalkan Shaula.
“Sama
Ad. Aku juga harus kuliah. Huft....” ucapku sambil menghempaskan napas
dalam-dalam. Aku tertunduk sedih, tak bisa kubayangkan ketika aku akan berpisah
dengan teman-teman The Flower yang selama ini sangat berarti dalam hidupku. Aku
ingat sekali ketika kami mengalami suka dan duka, ketika kami berjuang susah
payah mencari dana untuk membangun studio, kemudian kami tawarkan lagu-lagu
kami ke radio-radio bahkan tidak jarang radio-radio itu mengusir kami dan
membentak-bentak kami karena menurutnya lagu kami jelek,
“Hey,
kok malah pada hening gini sih. Ayo kita
latihan” teriak Dea yang baru saja datang bersama Ola dan Gerald ayo donk
semangat” sambung Dea.
Kami
semua bangkit dan mengambil alat musik masing-masing. Tapi setelah beberapa
kali main, Dea malah tak berkonsentrasi padahal dia yang menyeru kepada kami
supaya bersemangat namun nyatanya dia sendiri yang tak bersemangat. Menjilat
ludah sendiri, kataku dalam hati.
“Kamu
kenapa sih De?” Fuad mulai kesal dengan keadaan Dea yang gusar sejak tadi.
“Sori
Ad perutku sakit. Hari pertama aku mens soalnya” Dea memegangi perutnya yang
kesakitan. Namun kami tau sakitnya tak terlalu serius jadi sepertinya tak perlu
ada tindakan yang serius pula.
“Yu
udah kalau emang keadaannya kaya gitu berarti gak bisa dipaksain kayaknya.
Soalnya mau dipaksain juga percuma kan. Latihannya cukup sampai disini aja”
Fuad ngeloyor sambil menaruh Gitar melodi kesayangannya sekilah ia tampak marah
pada Dea namun dari raut mukanya sejak baru datang tadi aku tau ada yang ngga
beres dengannya.
“Kenapa
tuh anak?” tanya Ola.
“Biarkan
saja sepertinya dia sedang ada masalah pribadi. Soalnya tadi waktu baru datang
ia tampak kusut dan lelah. Ya sudah kita pulang saja yuk”
“Berta,
kau bisa antar aku pulang ngga? Kayaknya aku ngga bisa pulang sendiri nih” Dea
berjalan mendekati Berta yang tengah siap-siap mencangklong tas kesayangannya.
“Maaf
De, aku sedang buru-buru sekarang. Aku harus ke galeri pamanku. Ditunggu
setengah jam lagi. Kau pulang bersama Gerald saja. Tak apa kan?”
“Ouh
baiklah” sepertinya Dea agak kecewa. Sambil menahan perutnya yang nyeri Dea mendengus
kesal.
Aku
sendiri masih tak ingin pulang. Aku masih ingin di sini. Studio inilah
sebenarnya yang kadang membuatku berhasil menciptakan lagu-lagu baru. Rumahku
memang tak bersahabat denganku, betapa sebal dan membosankannya di sana. Semua
telah pergi. Hanya tersisa aku sendiri di sini. Aku sendiri bingung apa yang
akan aku lakukan. Dengan langkah kecil mendekati keayboard. Dulu mama sering
mengajarkanku memainkan piano. Aku mencoba menyentuh tuts-tuts piano dengan jari-jari mungilku, tiba-tiba aku rindu
dengan mama ku. Dengan perasaan tidak sadar aku memainkan lagu yang dulu pernah
diajarkan mama, aku pun sempat meneteskan air mata. Aku larut dalam permainanku
sendiri hingga akhirnya aku tersadar ada seseorang yang bertepuk tangan ketika
aku selesai memainkan lagu itu.
“Sejak
kapan kamu ada di sini?”
“Tak
lama kok. ada sesuatu yang ketinggalan. Ini...” kata Berta mengambil topi
coklatnya. “Kamu kenapa?” tanya Berta saat ia melihat mataku yang memerah.
“Tidak
apa-apa. Aku hanya sedang rindu pada ibuku”
“Hm....
ikut aku yuk”
“Kemana?”
Berta tak menjelaskan kemana kita akan pergi. Aku hanya bisa pasrah. Di dalam
mobil kami saling terdiam. Aku larut dengan lamunanku sendiri begitu pun dengan
Berta. Namun tiba-tiba ponselku berdering.
“Halo
Ken” ucapku sambil mendekatkan ponsel ke telingaku. “Kayaknya ngga ada deh,
kenapa?” aku melirik ke arah Berta, dia tampak serius mengemudi. “Oke deh besok
sepulang sekoah ya aku tunggu. Bye...” aku menutup ponselku dan memasukannya ke
dalam tas ku.
“Sudah
berapa lama kamu jadian dengan Ken?”
“Tiga
tahun”
“Kau
mencintainya? Ah maaf. Pasti kamu sangat mencintainya”
“Yah
ku harap begitu. Ah sudahlah. Ouh ya setelah lulus SMA kau mau kuliah dimana?”
“Aku
mau ke Padang. Ibuku ada di sana. Dan mungkin aku akan mencari pekerjaan di
sana. Kamu udah pasti kuliah ke Bogor?”
“Aku
harap aku bisa di terima di sana”
“Sudah
pasti. Kau kan pintar” aku tak mengerti apa yang ada dipikiran Berta. Aku
pintar? sejak kapan? Hm... padahal jelas-jelas dia yang jenius. Ah Berta selalu
merendah. Mobil Berta berhenti di lapangan parkir sebuah galeri lukisan. “Turun
yuk..!” sambungnya.
Ake
berdecak kagum ketika menginjakan kakiku di lantai galeri ini hingga tak aku
sadari langkahku tertinggal jauh oleh langkah Berta. Berta menarik tanganku dan
membuyarkan lamunanku.
“Aduh
Berta, kenapa mesti buru-buru sih? Aku kan mau lihat-lihat dulu”
“Kita
harus bertemu dengan pamanku. Kita udah telat” Berta berjalan setengah berlari.
“Apa urusannya denganku? Bukankah itu urusanmu?”
tanyaku. Langkah Berta berhenti mendadak.
“Iya
yah. Ya sudah kamu tunggu di sini. Jangan kemana-kemana. Oke”
“Jangan
lama-lama yah” Berta mengangguk dan berjalan menjauh. Aku menunggu Berta sambil
melihat-lihat beberapa lukisan yang terpampang di dinding-dinding lobi. Ada
sebuah lukisan yang membuatku tak ingin berhenti untuk menatapnya. Aku tak
ingin memalingkan wajahku dari lukisan ini. Melihatnya membuatku begitu tenang
dan damai. Aku ingin membawanya pulang, tapi rasanya tidak mungkin. Aku yakin
lukisan ini pasti sangat mahal bahkan ada lukisan yang harganya ratusan juta
rupiah. Ah andai saja aku punya banyak uang maka akan ku bawa pulang lukisan
itu. Berta tiba-tiba muncul dan menepuk punggungku. Aku kaget dan berbalik ke
arahnya.
“Ih
kamu bikin aku kaget tau. Aku kira kamu hantu” ucapku sambil mengatur napas.
Entahlah tepukan Berta benar-benar membuatku
shock.
“Sejak
kapan ada hantu dengan tampang ganteng kaya gini? Hm... ada apa dengan lukisan
ini?”
“Aku
suka. Suka banget. Pengen bawa pulang tapi impossibble
banget deh kayanya” ucapku sambil terus menatap lukisan ini.
“Kenapa
kamu suka lukisan ini?”
“Lukisan
ini bikin aku tenang. Membuatku tak ingin meninggalkan tempat ini. kenapa aku
jadi kaya gini ya?”
“Tau
deh.... kamu kaya yang terhipnotis aja”
“Iya
kamu bener. Aku terhipnotis oleh lukisan ini”
“Ah
udahlah ayo, aku mau nraktir kamu makan. Mau ga?”
“Setuju...”
aku ga akan menolak pada siapapun yang akan mentraktirku makan, secara
gratisan.
Di
Grage mall cirebon, mobil Berta terparkir dengan rapi. Kami berdua masuk ke
dalam mall. Selintas kami terlihat seperti pasangan kekasih. Ah ini adalah kali
pertamanya aku dan Berta jalan berdua biasanya kami jalan berlima atau berenam.
Berta cukup tampan sih, bahkan sebenarnya dia itu cool, jenius pula. Ah sayang
sekali kenapa dia belum punya cewek. Andai aku bisa jadi ceweknya,
bahagianya...... hm.... aku mulai berafikir yang ngga ngga deh. Habis bagaimana
lagi, bener deh Berta itu perfect
banget. Tapi baiklah aku sudah punya Ken. Ken sudah cukup baik padaku. Meskipun
kami jarang kontak karena Ken terlalu disibukkan dengan kegiatan ekstrakurikulernyanya
dan aku pula sibuk dengan The Flower jadi kami jarang sekali ketemu atau jalan
bareng.
“Makan
dulu, terus kita nonton” ucap Berta. Aku kaget, nonton?
“Nonton?”
tanyaku pada Berta. Aku mendongakan kepalaku tepat di depan wajahnya. Aku kaget
sekali ketika menyadari posisi ku sangat dekat dengannya.
“Iya.
Kenapa?” jawabnya sambil tersenyum.
“Ah
ngga kenapa-kenapa” jawabku sambil menjauhi wajahnya. Aku ingin bertanya lebih lanjut, namun kuurungkan
niatku.
Setelah makan dan merasa kenyang,
kami membeli dua tiket nonton.
“Berta,
aku ke toilet dulu ya. Kamu duluan aja, nanti aku nyusul” ucapku pada Berta dan
dia mengangguk. Sebelum nonton biasanya aku buang air kecil terlebih dahulu
biar ngga kebelet di tengah pas nonton, soalnya diruangan berAC biasanya aku
akan sering tak kuasa menahan buang air kecil. Suasana ruangan bioskop pun
sudah dibuka dan masih sangat sepi. Aku melangkah masuk ke ruangan bioskop
menyusul Berta dan aku begitu terkejut luar biasa. Dadaku tiba-tiba terasa
sesak. Seketika Berta memelukku dari samping dan menutup mataku dengan
tangannya. Aku tak kuat melihatnya. Berta segera menarikku dan keluar dari
ruangan bioskop. Aku tak bisa menahan air mataku.
“Berta,
bisa anter aku pulang?” tanyaku padanya dengan perasaan sangat kacau. Ah aku sudah
tak bisa berfikir apa-apa lagi. Aku segera masuk mobil dan Berta pun sangat
mengerti dengan keadaanku.
“Pulang?”
“Ke
rumah Ola. Aku ga bisa sendirian”
“Halo
Ola, kamu ada di rumah?. Oke, aku sama Saski mo ke rumah kamu. Kamu jangan
kemana-mana ya” ucap Berta lewat ponselnya. Ia memastikan agar Ola benar ada di
rumah.
“Thanks
ya” air mataku masih belum mau berhenti mengalir. Ah begitu sakit rasanya. Ken
berciuman dengan wanita litu. Aku sering melihat wajah wanita itu, dia memang
salah satu aktivis OSIS. Tapi aku tak tau siapa namanya.
Sesampainya
dirumah Ola, aku langsung memeluknya. Dan Ola menyambut pelukannku.
“Kenapa
Sas?” tanya Ola. Aku tak menjawab. Dan Berta pun tetap diam.
“Ke
taman belakang aja La. Saski lagi butuh temen. Jiwanya lagi terguncang“ kami bertiga melangkah menuju taman belakang.
Aku melangkah tetap dalam pelukan Ola an Berta berjalan di belakang kami.
“Kenapa
Sas, cerita donk” tanya Ola yang nampaknya sangat penasaran.
“Tadi
kita liat Ken sama Helena ciuman di bioskop” jawab Berta.
“Apa?
Ken sama Helena? Kurang ajar banget sih tuh anak” kata Ola garang.
Aku
mencoba menenangkan diriku sendiri. Menghapus air mataku dan menarik napasku
dalam-dalam.
“Udah
lah, mungkin ini sudah waktunya. Dari dulu aku udah ngerasa ada yang beda dari
Ken. Apalagi semenjak masuk OSIS dia nampak beda. Dan mungkin ini jawaban dari
pertanyaan-pertanyaanku selama ini. Kalian ngga usah khawatir. Aku baik-baik
saja kok” ucapku seraya mencoba tersenyum pada kedua sahabatku itu.
Tiga bulan kemudian
Aku
telah memutuskan hubungan dengan ken. Hubungan itu memang sudah tidak dapat
dipertahankan lagi. Sakit hatiku sudah mulai menghilang, lagipula selama ini
pun sebenarnya aku tak terlalu mengharapkan Ken. Aku tak pernah menganggap Ken
spesial.
Saski,
ada paket tuh buat kamu” seru ayah dari lantai dasar. Aku sangat penasaran paket apaan? Dari siapa pula? aku
menuruni anak tangga rumah dengan perasaan deg-degan dan penasaran. Aku melihat sebuah benda persegi panjang dengan
luas 1 m2 tergeletak dekat kursi rumah. Benda itu dibungkus dengan
kertas berwarna coklat. Aku menyobek kertas itu dan alangkah terkejutnya benda
itu adalah lukisan yang pernah aku lihat di galery milik paman Berta. Aku juga menemukan amplop Biru muda di dalam
lukisan itu.
Aku ngga jadi jual lukisan ini
sejak kamu bilang kalau kamu sangat menyukai lukisan ini. Aku sadar lukisan ini sangat berharga bagiku
karena ini adalah lukisan pertamaku selain itu aku melukis ini dengan bimbingan
ayahku sebelum ia meninggal. Intinya aku tak ingin melepaskan Lukisan ini.
Namun aku titipkan lukisan ini kepadamu hingga suatu hari disaat aku sudah siap
aku akan menjemput lukisan ini dan menjemputmu. Aku sayang kamu Saski
Berta
Baratha.
Aku
meneteskan air mata sembari memeluk kertas surat itu. Aku tak menyangka Berta menyayangi dan
mencintaiku. Sudah lama aku memendam perasaan untuk Berta namun aku tak berani
berbuat apa-apa. Setelah tau Berta naksir gadis lain yang aku pun tak tau siapa
gadis itu akhirnya aku memutuskan untuk menerima Ken yang selama ini meminta
cintaku. Namun aku tau Berta tak pernah dekat dengan cewek manapun. Kini aku
tau Berta berada di Padang. Dan entah kapan ia akan kembali. Namun aku yakin
Berta akan menjemputku dan menepati janjinya.
Langganan:
Postingan (Atom)











