Rabu, 19 Oktober 2011

Ketika Niat Dipertanyakan

Ketika Niat dipertanyakan

Selayaknya kita menjadi seorang pentuntut ilmu, maka akan dipertanyakan kepada kita apa niat kita menuntut ilmu? Begitu kegundahan itu hinggap dalam pikiranku yang dangkal ini.

Sekali lagi pertanyaannya adalah apa niat kita dalam menuntut ilmu (khususnya dalam kuliah)? Apakah hanya untuk mendapatkan titel sarjana supaya mudah dalam mendapatkan pekerjaan? Apakah agar menjadi orang yang berpendidikan dengan nilai IPK yang tinggi?

Waktu itu ibuku bertanya lewat telepon “Bagaimana nilai-nilai kuliah mu nak?” maka ku jawab “Alhamadulillah sejauh ini sih masih bagus-bagus aja bu” padahal kemarin baru saja aku memperoleh nilai BC untuk mata kuliah Matematika, sebuah nilai yang aku rasa rendah. Sekilas aku seperti membohongi ibuku. Nilai BC bukanlah nilai yang bagus. Namun aku tak ingin membuatnya khawatir. Kemudian aku berfikir aku akan belajar keras demi mendapatkan nilai yang tinggi, demi sang ibu tercinta, demi memenuhi harapan ibu yang ingin anaknya lulus dengan nilai yang tinggi. Namun ada sesuatu yang kurang pas dengan presepsi ini. Aku kembali berfikir inikah yang akan aku kejar? IPK tinggi? Seharusnya bukan ini. Ini bukanlah tujuan yang mulia, ini tidak sesuai dengan perintah-Nya. Masih ada tujuan yang lebih mulia lagi. Pecinta ilmu seharusnya bertujuan dalam menuntut ilmu untuk mencapai keridhaan ALLAH SWT. Mewujudkan rasa syukur atas nikmat berupa akal dan kesehatan, menghidupkan ajaran agama Islam dan menjaga kelestarian agama, mengharapkan kebahagiann akherat dan melenyapkan kebodohan. Tingginya ilmu seseorang tidak diukur dari dalamnya teori ilmu yang ia kuasai, tapi diukur dari sejauh mana ia mengamalkan ilmu yang ia punya. Maka ketika itu kita harus meluruskan niat kita. Melihat dari sisi kita menuntut ilmu adalah yang pertama tentunya bukan untuk mendapatkan nilai yang tinggi, tapi kita menimba ilmu di negeri orang ini untuk kita amalkan kelak di tanah kelahiran tercinta. Jadilah seseorang yang haus akan ilmu, seseorang yang mencintai ilmu dan mengamalkan ilmu, semua itu bisa kita gali melalui ketekukan dalam menuntut ilmu. Kita harus ingat ketika orang tua kita melepas kepergian kita untuk menuntut ilmu, ketika matanya berkaca-kaca meneteskan air mata, ketika hatinya berusaha untuk merelakan kepergian kita, ketika orangtua susah payah mecari bekal untuk kepergian kita dan kita pun harus ingat bahwa orang-orang di tanah kelahiran kita saat ini sedang menunggu hasil ilmu-ilmu yang kita dapat. Mereka menunggu ilmu-ilmu kita kelak. Sesungguhnya kita adalah orang-orang terpilih yang bisa menuntut ilmu di tanah orang. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti kita. Oleh karena itu apa yang harus kita lakukan demi semua ini? Kita tak punya waktu untuk melewatkan waktu. Ingatlah semua yang telah menunggu kita. Berjanjilah untuk memberikan yang terbaik untuk mereka dan berjanjilah untuk menjadi yang terbaik diantara mereka. Kini saatnya kita belajar dengan keras tapi bukan untuk mendapatkan nilai tertinggi. Tapi untuk menjadikan ilmu ini bermanfaat bagi semua. Maka itu jauh lebih mulia dan dengan sendirinya nilai tertinggi itu akan kita gapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar