Jumat, 21 Oktober 2011

Dua yang Kontras

Seseorang mempunyai kehidupan yang berbeda-beda. Orang bilang hidup adalah pilihan. Itu memang tak salah. Dalam kehidupan ini kita dituntut untuk bisa lebih bijak dalam memilih.

Saat itu aku menghadiri acara MPKMB (Masa Pengenalan Mahasiswa Baru) iya di sebuah ruangan besar yang bernama gedung Grawida atau sering disebut GWW, aku dan tiga ribu mahasiswa lainnya dikumpulkan dalam ruangan itu. Suasana ramai, tawa riang nan ceria tak dapat dielakkan saat itu. Begitu pun diriku, aku membebaskan diriku berteriak sekencang-kencangnya ketika menyambut berbagai penampilan-penampilan yang ditampilkan oleh panitia. Dan saat itu hadirlah seseorang memberikan sambutan tak lain dan tak bukan dia lah Presma IPB Mohammad Rezha Phalevi. Dia adalah orang nomor satu bagi kalangan mahasiswa IPB. Ketika itu slide menampilkan riwayat hidup dari seorang Rezha Phalevi. Ketika aku membacanya kata demi kata, baris demi baris aku terkejut bukan main. Aku yakin jabatan sebagai Presma bukanlah jabatan yang ringan, awalnya aku akan menyangka bahwa seorang Rezha ini pasti akan mempunyai banyak prestasi hanya dibidang ektrakurikuler saja namun ternyata aku salah besar. Seorang rezha Phalevi juga ternyata memiliki prestasi luar biasa dibidang akademik. Aku hanya bisa berdecak kagum. Kok ada ya manusia seperti dia? Penuh prestasi, seorang presma pula? Betapa luar biasanya manusia macam ini. Betapa hebatnya dia, ditengah kesibukannya dalam berorganisasi tapi ia masih punya prestasi oh bukan masih punya tapi dia juga banyak prestasi dibidang akademik. Apalagi ia sempat mengikuti pertukaran peajar ke luar negeri. Maka saat itu aku berfikir aku ingin seperti dia. Aktif diberbagai organisasi dan bisa memiliki banyak prestasi.

Namun diwaktu yang berbeda, saat itu aku sholat subuh berjamaah di mushola Al Mahabbah tercinta, kebetulan rekanku sedivisi kultum tentang kisah seorang wanita yang zuhud kepada Allah. Dalam kisahnya wanita itu menolak segala hal yang berbau dunia. Yang dia inginkan hanyalah kekelan dikehidupan akhirat kelak. Yang dia pikirkan hanya bekal yang akan ia bawa untuk menghadap Allah kelak. Maka saat itu aku berfikir betapa mulianya wanita itu. Ketika itu juga hatiku tersentuh. Aku berdiaog dengan diriku sendiri dan bertanya “Lantas apa yang telah aku persiapkan untuk menghadapNya? Apa yang aku fikirkan selama ini?” Selama ini aku terlalu sibuk dengan kehidupan dunia. Dengan semua cita-cita duniawi yang ingin aku capai. Maka disinilah aku terus mencari jati diriku yang sebenarnya. Akan dibawa kemana jasad dan ragaku kelak. Kehidupan akhirat bukanlah kehidupan yang sepele. Kehidupan akhirat adalah bukan akhir dari kehidupan kita tetapi kehidupan awal kita yang sebenarnya. Dua kisah ini memang sangat kontras jika kita renungi. Maka hal yang harus kita lakukan adalah menyeimbangkannya. Kadang kita terlena dengan kemewahan yang ditawarkan oleh dunia, maka dari itu iman dan takwa kita harus tetap konstan. Jangan biarkan iman kita goyah.

Maka anda lah yang akan menentukan akan dibawa kemana kehidupan anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar